Jumat, 12 April 2019

Nongkrong Asyik Kantong Tetap Aman

      Setelah berkutat dengan kesibukan yang bikin kepala berasap ataupun badan pegal-pegal, beberapa orang-orang membutuhkan sesuatu atau melakukan sesuatu yang ditujukan untuk merelaksasi diri. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, mulai dari istirahat gegoleran di depan tv, movie marathon, baca buku, olahraga, outing dengan teman, hunting makanan dan lain sebagainya. Aku termasuk dalam jajaran orang yang kalau sudah lelah sama aktivitas biasanya akan menyempatkan kegiatan seru yang kupilih secara random. Salah satunya adalah icip-icip kuliner.

    Icip-icip kuliner itu sudah menjadi seperti hobi buat aku. Aku nggak pernah mempermasalahkan berat badan karena badanku agak sulit melar. Yah, walaupun pipi nggak terkondisikan *Haha
Kebayang dong, gimana enaknya punya hobi makan tapi nggak gampang melar? Kalau kebanyakan perempuan menganggap berat badan adalah masalah utama, aku nggak begitu. Problemaku adalah ketika mood icip-icip lagi keluar tapi dompet terlihat agak mengenaskan. Maklumlah budak korporat harus pandai-pandai mengatur keuangan. Biar nggak tewas sebelum tanggal muda. *Sorry, ini agak lebay, haha.*

  Kalau tanggal muda sih, okelah, sok makan dimana aja nggak lihat harga. Yah, walaupun kadang habis itu ngelus dada tapi selagi tidak mengecewakan nggak masalah. Sekarang ini lagi banyak banget tempat makan, kedai kopi, kafe yang menawarkan konsep unik, menu yang ciamik dan view yang instagramable. Nggak perlu bingung lagi kalau nggak punya rekomendasi karena di era digital ini, semuanya serba mudah. Pengen makan di kafe yang menunya nggak mencekik kantong tapi tetap nyaman? Tinggal klik aja di 'si Mbah'.

Kayaknya bisnis di bidang kuliner sekarang ini lagi ngehits. Banyak kafe baru yang membuat penasaran. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat lihat ada Grand Opening sebuah kafe sekaligus kedai kopi yang mengundang rasa penasaranku. Bayangin aja, aku tuh tinggal di sebuah kecamatan yang bisa dibilang agak jauh dari pusat kota. Lumayanlah jarak tempuh dari rumah ke pusat kota sekitar 30 menit. Jadi, kebayang dong kalau ada kafe yang kelihatannya ciamik gimana responku? Penasaran!

  Rencana awal, aku bakal icip-icip sama teman. Tapi, karena dia nggak bisa akhirnya aku memutuskan untuk nongkrong sendirian di sabtu malam minggu yang kelabu karena gerimis mengguyur syahdu *Halah sok iye

  Aku datang ke Pit-Stop Kopi Ekspress Porong sekitar jam setengah lima sore. Pertama kali aku masuk hanya ada beberapa pengunjung nggak terlalu ramai bahkan tergolong sepi.


  Kesan pertama ketika aku masuk ke dalam, suasana kedai kopi 24 jam yang terletak di Jln. Arteri Baru Porong No.60 Sidoarjo ini cozy banget. Menawarkan konsep indoor dan outdoor Pit-Stop Kopi Ekspress ini cocok buat nongkrong. Kondisi di dalam ruangan dinginnya pas menurutku. *Soalnya ada beberapa kedai kopi atau kafe yang indoor tapi sumuk alias panas walaupun AC nyala. Awalnya aku agak bingung, karena pas datang itu karyawannya kayaknya lagi asyik nonton bola. Aku sempat mikir 'ini aku nggak salah tempat kan?' dan ternyata mereka tidak lupa menyambut pelanggan dengan sopan dan ramah.


    Well, Pit-Stop Kopi Ekspress menerapkan sistem pesan langsung dan bayar langsung di counter. Bisa bayar cash bisa juga pakai debit. Kalau kalian pakai BRI bisa ambil duit dulu di ATM sebelahnya *Haha. Ada papan menu yang bisa dilihat bagi pengunjung yang bingung mau pesan apa *kayak aku. Umtuk lebih lengkapnya kalian bisa lihat di daftar menu. Oh, iya, aku agak kaget waktu lihat menunya. Aku mengharapkan ada dessert manis yang bikin ngiler soalnya niat awalku ke sana sekalian mau nyetok foto buat review buku. Tapi, sayang sekali, bung! Tidak ada dessert manis dalam menu yang ditawarkan. Nih, buat yang kepo menu di Pit-Stop Kopi Ekspress!

  Waktu itu, aku pesan kentang goreng *camilan favorit, teh tarik, dan chicken rice bowl blackpaper. Untuk harga yang menurutku tergolong sangat murah, porsi makanan Pit-Stop Kopi Ekspress ternyata cukup banyak. Aku aja hampir nggak habis, berhubung aku sendirian kan sayang kalau buang-buang makanan jadi aku makannya pelan-pelan.



Dari segi rasa lumayanlah, seperti makanan di kafe pada umumnya. Yang jadi poin plusnya adalah pelayanannya cukup cepat. Bukan karena sepi ya, tapi memang menurutku karyawannya cekatan. Aku puas banget sama pelayannya. Waktu itu, sempat aku tinggal sholat maghrib di musholla sebelah, aku nitip pesan supaya mejaku nggak dibersihkan dulu dan mereka mengiyakan, bahkan beberapa barang yang sengaja kutinggal syukurnya aman-aman aja. Jadi, kalian jangan khawatir di dekat Pit-Stop Kopi Ekspress ada musholla jadi, istilahnya nongkrong boleh tapi ibadah jangan sampai lupa.

  Kenapa aku bisa bilang pelayanannya cekatan? Karena aku di sini sampai sekitar jam setengah sembilan malam. Dan, sehabis maghrib itu pengunjung udah mulai menggila. Makin malam makin ramai. Mungkin, cuma aku yang datang sendirian tapi nempatin meja untul 4 orang *Haha. Alhamdulillahnya, aku nggak digusur walaupun kondisi kafe sudah mulai sesak bahkan penuh. Beberapa pengunjung sampai nggak dapat tempat duduk. Ketika aku nambah pesanan, aku kira datangnya agak lama dan ternyata enggak. Luar biasa!

    Kata mak lambe turah, 'no pict is hoax' masalahnya adalah waktu itu aku lagi keasikan streaming nonton IBL pakai wifi yang mantap jiwa jadi, nggak sempat motret gimana sesaknya Pit-Stop Kopi Ekspress pas malam minggu. Oh, iya buat kalian yang kemana-mana bawa mobil, nggak perlu khawatir soal parkir. Soalnya, tempat parkirnya lumayan luas. Aku agak lupa parkirnya ini bayar atau gratis ya, seingetku gratis sih.



Jadi, buat kalian yang penasaran dengan Pit-Stop Kopi Ekspress tapi takut dompet jadi kopyah nggak usah khawatir. Dijamin aman, mau traktir teman uang seratus ribu pun cukup-cukup aja. Walaupun menunya terbatas tapi porsinya bisa bikin susah napas *kekenyangan. Parkir aman, ibadah jalan, dan bisa nongkrong ala-ala anak kekinian.

Senin, 15 Oktober 2018

Barbeque murah di Grill Me Surabaya

Siapa bilang barbequan harus mahal? Awalnya, saya juga berpikir demikian. Namun, setelah saya searching-searching akhirnya saya menemukan tempat ngegrill asyik yang nggak bikin kantong pengap. Grill Me salah satu resto yang menawarkan konsep barbequan ala resto all you can eat. Tapi bedanya, Grill Me menawarkan menu per porsi.


Berlokasi di Jln. Raya Nginden No.16, Baratajaya, Gubeng, Kota SBY, Grill Me buka mulai 11.00-22.00 WIB. Konsep bangunan yang semi outdoor dengan ornamen yang menarik yang seolah menghadirkan nuansa pantai seperti bambu-bambu, tumbuhan tropikal, pasir pantai yang digunakan untuk menghias taman yang berada di tengah-tengah membuat saya merasa betah.


Dengan pilihan menu beragam dan rasa yang sesuai dengan kocek yang dikeluarkan. Grill Me cocok buat nongkrong bareng temen, makan bareng keluarga atau makan sama doi *kalau punya, ya :D




Tidak hanya menawarkan menu per porsi, kalian bisa juga pesan menu paket. Cocok nih buat makan rame-rame. 



Waktu itu saya nyobain Kimchi Stew paket Eko hanya berdua. Alhasil, kami kekenyangan. 




Pelayanannya yang ramah dan telaten juga menjadi poin plus tempat ini, loh. Walaupun kalian belum pernah nyobain ngegrill jangan ragu datang ke sini! Kalian akan dibantu dengan pelayan-pelayan yang baik hati. Satu lagi nih, gais! Buat kalian yang suka bepergian pake kendaraan pribadi, nggak usah risau. Halaman parkir Grill Me luas banget, loh! Jadi, nggak perlu khawatir. Jadi, kapan kamu ke Grill Me?

Indahnya Panorama Bawah Laut : Gili Ketapang, Probolinggo

Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata 'Gili'? Saya yakin sebagian besar orang akan memikirkan pulau Lombok. Pulau Lombok memang terkenal akan keindahan dan keeksotisan wisata bahari. Banyak sekali Gili yang menjadi ikon detinasi yang wajib dikunjungi jika berlibur ke sana. Sayang, saya belum berkesempatan berkunjung ke sana.

Berbekal kekepoan pada akun-akun traveller di instagram, akhirnya saya menemukan sebuah destinasi yang suasananya tidak kalah mengagumkan dibandingkan Lombok. Masih dalam wilayah Jawa Timur, Gili Ketapang adalah sebuah desa dan pulau kecil yang terletak di Selat Madura. Secara administratif, Gili Ketapang masih termasuk wilayah kecamatan Sumberasih, Probolinggo.


H+5 lebaran saya berangkat ke Gili Ketapang. Perjalanan menuju Probolinggo dari tempat tinggal saya kurang lebih dua jam. Sampai di Kota Probolinggo saya menuju ke pelabuhan Tembaga dan langsung menemui guide yang sudah saya kontak sebelumnya. Karena saya kemarin ke Gili Ketapang pas libur lebaran, jadi suasananya lumayan ramai. Dari pelabuhan, saya dan beberapa wisatawan lainnya diarahkan naik sebuah perahu yang biasa digunakan masyarakat sebagai transportasi penyebrangan.

Perjalanan air dari pelabuhan menuju ke Gili Ketapang kurang lebih 30 menit. Tergantung cuaca dan gelombang. Selama perjalanan, kita disuguhkan panorama yang indah dan tidak membuat jemu. Apalagi kalau cuaca sedang bagus, kena sepoi angin dan goyangan perahu. Kombinasi yang pas.

Sampai di Gili Ketapang saya langsung disambut tour guide yang ramah dan diajak menuju gazebo yang sudah dibooking. Sesampainya di sana, saya diminta bersiap-siap berganti pakaian untuk melakukan snorkling.

Buat kalian yang nggak bisa berenang, jangan khawatir! Kalian tetap bisa main air kok, dibantu peralatan yang memadai dan guide yang memandu. Saya sendiri, walaupun nggak jago-jago amat akhirnya masih bisa foto underwater, yah... walaupun hasilnya nggak seberapa bagus soalnya saya sudah lelah dan susah diarahin.

Saran saya nih, buat kalian yang main ke Gili Ketapang mending ambil paket yang Private Tour khusus 8 orang. Kalau saya kemarin rame-rame jadi beberapa yang nggak terlalu jago terabaikan soalnya kebanyakan orang. Walaupun, agak mahal tapi fasilitasnya lebih mantep. Kalau trip yang untuk umum sekitar 90rb/orang kalau private trip 150rb/orang. Oh, ya, buat yang datang dari luar kota kayak saya bisa juga menginap, loh. Ada paket camp tapi kemarin sedang tutup. Lagian, jarak dari tempat saya nggak terlalu jauh jadi menurut saya nggak perlu menginap.

Untuk paket guide yang saya sebutkan itu udah include penyebrangan PP, makan siang nasi dan ikan bakar sepuasnya. Eits, ekspetasinya jangan tinggi-tinggi ya, ikan bakarnya ini setipe ikan tongkol kecil-kecil dipadu sambel kecap campur petis yang ajib. Kalau mau nambah ikan kayak cumi-cumi goreng, udang, sosis dll. bisa aja sih, asal nambah duit. 

Jujur, saya kurang puas eksplorasi pulau mungil nan eksotis ini. Saya sampai di Gili Ketapang memang sudah terlalu siang jadi, yah kurang lama menikmatinya.



Rabu, 10 Oktober 2018

[REVIEW] Kisah di Masa Orde Baru : Buku Laut Bercerita




Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal : x + 379 halaman, cetakan pertama, Oktober 2017
ISBN : 978-602-424-694-5




Jakarta, Maret 1998
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.


Jakarta, Juni 1998
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.


Jakarta, 2000
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.


Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

******

« Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali....»

Sebuah sajak sang penyair yang mencuri hati saya saat pertama kali membaca kisah Biru Laut dkk. Kisah diawali dengan sesuatu yang kelam dan menenggalamkan pembaca ke dalam cerita.

«Aku selalu menyangka, pada saat kematian tiba, akan ada gempa atau gunung meletus dan daun-daun gugur. Aku membayangkan dunia mengalami separuh kiamat.»

Laut Bercerita berkisah tentang Biru Laut dkk. yang menuntut perubahan pada masa pemerintahan Orde Baru. Masa dimana Indonesia kehilangan nilai-nilai demokrasi dan pemimpin diktator yang menguasai. Ancaman, siksaan, pengkhianatan, dan kehilangan yang dialami para tokoh dalam buku ini benar-benar mengoyak perasaan. Penggunaan alur campuran yang diterapkan tidak membuat pusing pembaca karena terdapat keterangan tahun dan pengambilan setting yang berbeda-beda. Walaupun setting tempat dari cerita ini sangat beragam, mulai dari kawasan markas Seyegan, Blanggunan, Bungurasih, Pacet, Jakarta dan beberapa tempat lain suasana yang didapat tetap terasa berbeda, pas  dan mendetail.

Dalam buku ini terdapat banyak sekali tokoh. Setiap tokoh selalu memiliki karakteristik kuat dan khas sehingga mudah untuk mengingatnya bahkan saya merasa tokoh-tokoh itu nyata.  Buku ini tidak hanya bicara soal respon terhadap politik. Asmara, keluarga dan persahabatan juga tercakup di dalam Laut Bercerita.

Sejujurnya, progres saya membaca buku ini benar-benar lambat. Bukan karena suatu hal yang mengacu pada konotasi negatif, melainkan saya benar-benar ingin menyelami kisah yang dibisikkan oleh Biru Laut. Ah, ya buku ini dibagi menjadi dua bagian yakni : Biru Laut dan Asmara Jati. Jika Biru Laut yang memulai maka Asmara Jati yang akan mengakhiri. Pada bagian Asmara Jati, saya berderai airmata. Penantian dan harapan yang besar namun tak kunjung membuahkan titik terang. Pada bagian ini saya merasa sangat berat untuk melanjutkan membaca kisah mereka. Namun, saya juga tidak ingin menyerah seperti—Laut. Sepahit apapun itu, saya tetap ingin mengetahui akhirnya. Omong-omong, buku ini sangat minim typo. Saya hanya menemukan satu typo dalam sebuah kalimat dialog yang membuat dialognya agak aneh. Walaupun, demikian minat baca saya pada buku ini tidak berkurang sedikitpun. Membahas mengenai akhir dari kisah Laut Bercerita, jika kebanyakan orang mungkin menyukai akhir yang manis, namun faktanya dalam buku ini saya rasa sangat pas dengan akhir penuh tangis.

Omong-omong kalau bahas buku kurang lengkap kalau tidak membahas tentang quotes atau kutipan-kutipannya. Apalagi kalau bukunya yang memang banyak kalimat-kalimat indah seperti Laut Bercerita salah satunya. Berikut beberapa kutipan dari Buku Laut Bercerita.

****

"Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi."—Laut Bercerita. halaman 2 

"Semakin aku tumbuh dan semakin melahap banyak bacaan perlahan aku menyimpulkan bahwa ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian." -Laut Bercerita, halaman 28 

Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk penggung kita. Kita tak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan." -Laut Bercerita, halaman 30 

"Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan." —Laut Bercerita, halaman 256 

Senin, 10 September 2018

[REVIEW] Amnesti Berbuah Kelegaan Hati dalam Buku Midnight Prince


Judul : Midnight Prince
Penulis : Titi Sanaria
Penerbit : Elex Media Komputindo
Penyunting : Dion Rahman
Penyelaras Aksara : Inggrid Sonya
Tebal : 267 halaman
ISBN :  978-602-04-5783-3

Sinopsis

“Menurutku, kamu menyukaiku.”

“Menurutku, kamu terlalu percaya diri.”

“Aku mengenalmu, Ka. Sebelum sesuatu yang aku nggak tahu itu apa, kamu nyaman denganku.”


Mika sadar, sudah saatnya dia meninggalkan masa-masa terpuruk dalam hidupnya. Menjalani kehidupan normal selaiknya seorang perempuan dewasa yang bahagia, seperti kata sahabatnya. Menemukan seseorang yang tepat, menjalani hubungan yang serius, kemudian menikah.

Lalu Mika bertemu Rajata. Semua nyaris sempurna seperti harapan semua orang untuknya, sebelum sebuah kenyataan menyakitkan menghantamnya telak. Membuatnya perlahan-lahan menghindari laki-laki itu, mengubah haluan menjadi seorang pesimis yang tak percaya pada kekuatan cinta. Dia berusaha mematikan perasaannya tanpa tahu kalau Rajata justru mati-matian memperjuangkannya.

Jika dua orang yang sudah tak sejalan bertahan di atas kapal yang nyaris karam, akankah mereka bertahan bersama, atau mencari kapal lain untuk menyelamatkan diri masing-masing?


*****

Mika seorang gadis berparas eksotis yang hidupnya berubah menjadi kelam semenjak roda kehidupan mengubah haluan.  Pertemuan tak terduga dengan Rajata membuat perubahan kecil dalam hidupnya. Ketika Mika mulai terbiasa dengan kehadiran Rajata, fakta baru terkuak sehingga Mika mulai membuat jarak. Masalalu yang sulit termaafkan dan menenggelamkan Mika dalam perasaan kehilangan dan penyesalan mendalam. Mika menyerah namun tidak dengan Rajata. Akankah perjuangan Rajata membuahkan akhir bahagia? Atau hanya berujung sia-sia?



Mengenal tokoh Mika membuat saya belajar beberapa hal. Diantaranya adalah kesinisan yang menjadi karakternya. Beberapa orang akan mengalami perubahan menyesuaikan kondisi lingkungan dan tekanan hidup yang ia rasakan, seperti Mika. Saya salut, tokoh Mika ini selalu berusaha berpikiran selogis mungkin demi membentengi diri. Saya membayangkan betapa berat beban yang dipikulnya. Persinggungan dengan tokoh Rajata yang tidak terduga saya rasa sangat unik. Rajata yang memiliki paras bak bintang hiburan dengan kesabaran dan kegigihan yang luar biasa.


Bacaan dark themed favorit saya banget. Anyway, saya suka sama layout buku ini. Tiap awal bab selalu ada kutipan, latarnya cocok dan cakep. Buku yang profesi tokoh utamanya seorang dokter ini membahas tentang dunia kedokteran dengan cukup detail. Penggunaan alur campuran yang dibeberapa bagian cukup menguras emosi. Sayangnya, saya menemukan beberapa typo dan ketidaksesuaian nama tokoh yang semestinya. Saya harap dicetakan selanjutnya bisa lebih baik lagi 💕💕💕

Kamis, 10 Mei 2018

Belanja Buku Praktis dan Ekonomis di MizanStore


BELANJA erat kaitannya dengan time and money. Di era modernisme yang serba canggih, semua orang tidak menampik bahwa melakukan transaksi online semakin digandrungi. Banyak aplikasi maupun web yang menjadi sarana transaksi jual beli mulai dari kebutuhan primer hingga sekunder. Banyaknya situs online ini memberikan kemudahan dan efisiensi waktu bagi pembelinya. Apalagi bagi pecinta buku seperti saya yang sering kali tidak sempat untuk pergi ke toko buku yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

Saya lebih memilih membeli buku secara online karena beberapa alasan. Diantaranya adalah :

1. Efisiensi Waktu

Padatnya aktivitas seringkali membuat beberapa orang kesulitan meluangkan waktu untuk sekedar melakukan hobinya. Bagi saya membeli buku yang saya inginkan dengan sekali ketuk layar gadget lebih mudah dibandingkan harus menunggu waktu luang untuk pergi ke toko buku.

2. Harga Lebih Ekonomis

Mahalnya harga buku sering kali menjadi hal yang sedikit banyak membuat orang-orang mengeluh. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut tidak masalah. Namun, tentu akan jadi masalah bagi kalangan menengah ke bawah. Perbedaan harga juga menjadi bahan pertimbangan bagi saya sehingga membeli buku secara online. Walaupun tidak signifikan namun tetap menggiurkan.

3. Buku Pre Order Bertandatangan Penulis + Merch

Ada beberapa orang yang sangat menggemari karya seorang penulis bahkan mengidolakannya sehingga menasbihkan bahwa ia wajib mengoleksi semua karyanya. Dan, memiliki buku bertandatangan juga menjadi salah satu bentuk atas apresiasinya. Itulah sebabnya kebanyakan orang memilih belanja buku di toko buku online.

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih toko atau situs online sebelum melakukan pembelian. Maraknya penipuan di dunia maya serta adanya buku bajakan mengharuskan kita sebagai pembeli lebih berhati-hati. Banyak sekali toko buku online yang membanting harga buku sehingga membuat pembeli terkecoh. Produk yang mereka tawarkan ternyata bajakan.

Diantara beberapa situs online favorit saya dan aman terpercaya adalah toko buku online Mizanstore. Mengapa saya merekomendasikan toko buku online Mizanstore? Belanja di toko buku online Mizanstore sangat mudah dalam pemesanan maupun pembayaran. Ketika saya mengunjungi situsnya saya langsung disuguhkan oleh penawaran yang menggiurkan namun tidak membuat kerugian. Kemudahan dalam mencari buku best seller maupun buku rekomendasi di web membantu saya lebih mudah memutuskan hendak membeli buku apa. Selain itu kita bisa mencari buku yang diingin dengan mudahnya dengan mengetikkan nama penulis atau judul buku. Jika masih ragu, kita dapat melihat sinopsis buku terlebih dahulu. Mirip dengan pergi ke toko konvensional namun lebih efisien, kan?

Dengan adanya toko buku online Mizanstore saya dapat membeli buku terbaru dan lengkap dengan cepat, mudah dan murah. Banyak sekali pilihan di toko buku online Mizanstore, mulai dari buku novel, cerita anak, agama, import, hingga sekolah dari Mizan, Bentang, Noura Publishing, Gramedia Pustaka Utama, Gagasmedia, Mediakita, Elex Media Komputindo dan masih banyak lagi.

Apalagi, semua buku di Mizanstore harganya lebih murah dibandingkan dengan toko buku konvensional. Diskon yang diberikan rata-rata 15%. Kadang kala, ada diskon tambahan yang berlaku untuk buku Pre-Order, promo dari penerbit ataupun promo dari Mizan Store sendiri.

Mengenai pembayarannya tidak perlu pusing, karena kita bisa memilih salah satu dari enam metode pembayaran paling mudah yang tersedia di Mizanstore.com untuk setiap transaksi pemesanan.

1. Kartu kredit
2.Internet banking
3. Uang elektronik (Mandiri e-cash, CIMB Clicks, BCA Klik Pay)
4. Transfer antarbank ke rekening BCA dan Mandiri
5. Indomaret
6. Alfamart

Mudah, kan?

Awal berlanggan toko buku online Mizanstore saya sempat kebingungan untuk konfrimasi pembayaran. Namun, setelah saya hubungi Customer Service dari toko buku online Mizanstore saya akhirnya lega karena ternyata pembayaran melalui bank terkonfrimasi secara otomatis. Yang saya suka adalah CS Mizanstore membalas email saya dengan ramah dan sabar walaupun saya spam karena saya khawatir jika pembayaran saya melebihi tanggal yang ditentukan.

Setelah urusan pembayaran selesai, maka toko buku online Mizanstore akan mempersiapkan pesanan dan saya hanya tinggal memantau pemberitahuan jika paket saya dikirimkan. Setelah dikirimkan saya bisa melacaknya melalui fitur yang tersedia di web Mizanstore.com

Praktiskan? Tunggu apalagi? Bagi kalian pecinta buku seperti saya yang kesulitan meluangkan waktu untuk pergi ke toko buku, ingin memiliki buku bertandatangan ataupun mengingkan buku yang lebih murah namun bukan bajakan, yuk belanja di Mizanstore!

Selasa, 24 April 2018

[REVIEW] Tentang Cinta Yang Tak Lagi Sama : Memori


Judul: Memori
Penulis: Windry Ramadhina @beingfaye
Editor: eNHa
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: @gagasmedia
ISBN: 979-780-562-x
Cetakan pertama, 2012
Tebal Buku: 304 halaman



Sinopsis

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi. 
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini. 
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman. 
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.


*****


Mahoni seorang arsitek yang bekerja di Virginia terpaksa harus kembali ke Indonesia karena berita duka—kematian Ayahnya. Awalnya ia berniat ke Indonesia hanya untuk sesaat. Namun, rupanya prediksinya tidak tepat. Sebuah tanggungjawab baru yang menurutnya adalah bencana di hidupnya terpaksa ia terima.


Mahoni berusah keras menyesuaikan diri dengan ritme baru yang terjadi di kehidupannya. Ternyata, takdir mempertemukannya dengan seseorang di masalalu. Seseorang yang punya andil besar dalam stabilitas hatinya.


Segalanya semakin rumit. Saat Mahoni dihadapkan pada pilihan yang menurutnya sulit dan membuat hatinya sakit.


*****

Buku yang menggunakan sudut pandang orang pertama ini erat kaitannya dengan dunia arsitektur. Tokoh utama yang merupakan seorang arsitek membuat pembahasan mengenai arsitektur sangat kental. Pembahasan mengenai berbagai jenis desain, sejarah arsitek, tokoh-tokoh yang berpengaruh serta pembahasan pekerjaan lapangan digali dengan sangat  detail dan tidak sekedar tempelan.


Karakter tokoh Mahoni yang idealis, cukup membuat saya terkesan. Saya merasakan emosi Mahoni yang kaku terhadap klien mengenai desain. Mahoni mendesain demi idealisme sementara tokoh Simon dan yang lain kebalikannya, perbedaan inilah yang menciptakan situasi yang menarik dalam lingkup pekerjaannya.


Sementara itu, kehadiran tokoh Sigi—adik tirinya, menciptakan suasana kaku yang berubah menjadi mengharu biru. Sayangnya, saya merasa ada yang kurang pada saat Sigi mengalami kesedihan mendalam. Bagaimana Sigi bangkit dari kesedihan saya rasa kurang diperjelas walaupun sekilas.


Saya kira, konflik keluarga akan selesai ketika Mahoni mulai menerima Sigi walaupun belum sepenuhnya. Namun, saya salah. Kemunculan tokoh Mae sang ratu drama yang masih terjebak dalam pengasihanian diri sendiri sempat membuat Mahoni dilema antara Sigi atau Ibunya.


Puncak dari konflik adalah ketika Mahoni berada di situasi terpojok. Saat hatinya masih pada Simon namun kenyataan seolah tidak memungkinkan. Dengan menggunakan alur campuran, kenangan-kenangan bersama Simon membuat Mahoni gelisah. Apa yang belum terselesaikan seolah menuntut akhir kisah.


Buku yang mengaduk emosi ini tidak hanya mengambil setting Metropolitan Jakarta melainkan juga di Yogyakarta. Pengambilan setting yang berbeda saya rasa detail yang dijabarkan untuk mendukung suasananya cukup kentara.

Membaca novel ini saya memetik banyak hal diantaranya adalah : berdamai dengan masalalu, pentingnya kompromi dan juga kita tak akan bisa memaksakan agar setiap orang merasa bahagia karena kebahagiaan adalah pilihan masing-masing individual. Bagaimana menghadapi masalah dan mengatasi gejolak hati adalah kunci menuju bahagia.