Tampilkan postingan dengan label resensi buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2018

[REVIEW] Kisah di Masa Orde Baru : Buku Laut Bercerita




Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal : x + 379 halaman, cetakan pertama, Oktober 2017
ISBN : 978-602-424-694-5




Jakarta, Maret 1998
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.


Jakarta, Juni 1998
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.


Jakarta, 2000
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.


Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

******

« Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali....»

Sebuah sajak sang penyair yang mencuri hati saya saat pertama kali membaca kisah Biru Laut dkk. Kisah diawali dengan sesuatu yang kelam dan menenggalamkan pembaca ke dalam cerita.

«Aku selalu menyangka, pada saat kematian tiba, akan ada gempa atau gunung meletus dan daun-daun gugur. Aku membayangkan dunia mengalami separuh kiamat.»

Laut Bercerita berkisah tentang Biru Laut dkk. yang menuntut perubahan pada masa pemerintahan Orde Baru. Masa dimana Indonesia kehilangan nilai-nilai demokrasi dan pemimpin diktator yang menguasai. Ancaman, siksaan, pengkhianatan, dan kehilangan yang dialami para tokoh dalam buku ini benar-benar mengoyak perasaan. Penggunaan alur campuran yang diterapkan tidak membuat pusing pembaca karena terdapat keterangan tahun dan pengambilan setting yang berbeda-beda. Walaupun setting tempat dari cerita ini sangat beragam, mulai dari kawasan markas Seyegan, Blanggunan, Bungurasih, Pacet, Jakarta dan beberapa tempat lain suasana yang didapat tetap terasa berbeda, pas  dan mendetail.

Dalam buku ini terdapat banyak sekali tokoh. Setiap tokoh selalu memiliki karakteristik kuat dan khas sehingga mudah untuk mengingatnya bahkan saya merasa tokoh-tokoh itu nyata.  Buku ini tidak hanya bicara soal respon terhadap politik. Asmara, keluarga dan persahabatan juga tercakup di dalam Laut Bercerita.

Sejujurnya, progres saya membaca buku ini benar-benar lambat. Bukan karena suatu hal yang mengacu pada konotasi negatif, melainkan saya benar-benar ingin menyelami kisah yang dibisikkan oleh Biru Laut. Ah, ya buku ini dibagi menjadi dua bagian yakni : Biru Laut dan Asmara Jati. Jika Biru Laut yang memulai maka Asmara Jati yang akan mengakhiri. Pada bagian Asmara Jati, saya berderai airmata. Penantian dan harapan yang besar namun tak kunjung membuahkan titik terang. Pada bagian ini saya merasa sangat berat untuk melanjutkan membaca kisah mereka. Namun, saya juga tidak ingin menyerah seperti—Laut. Sepahit apapun itu, saya tetap ingin mengetahui akhirnya. Omong-omong, buku ini sangat minim typo. Saya hanya menemukan satu typo dalam sebuah kalimat dialog yang membuat dialognya agak aneh. Walaupun, demikian minat baca saya pada buku ini tidak berkurang sedikitpun. Membahas mengenai akhir dari kisah Laut Bercerita, jika kebanyakan orang mungkin menyukai akhir yang manis, namun faktanya dalam buku ini saya rasa sangat pas dengan akhir penuh tangis.

Omong-omong kalau bahas buku kurang lengkap kalau tidak membahas tentang quotes atau kutipan-kutipannya. Apalagi kalau bukunya yang memang banyak kalimat-kalimat indah seperti Laut Bercerita salah satunya. Berikut beberapa kutipan dari Buku Laut Bercerita.

****

"Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi."—Laut Bercerita. halaman 2 

"Semakin aku tumbuh dan semakin melahap banyak bacaan perlahan aku menyimpulkan bahwa ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian." -Laut Bercerita, halaman 28 

Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk penggung kita. Kita tak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan." -Laut Bercerita, halaman 30 

"Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan." —Laut Bercerita, halaman 256 

Senin, 10 September 2018

[REVIEW] Amnesti Berbuah Kelegaan Hati dalam Buku Midnight Prince


Judul : Midnight Prince
Penulis : Titi Sanaria
Penerbit : Elex Media Komputindo
Penyunting : Dion Rahman
Penyelaras Aksara : Inggrid Sonya
Tebal : 267 halaman
ISBN :  978-602-04-5783-3

Sinopsis

“Menurutku, kamu menyukaiku.”

“Menurutku, kamu terlalu percaya diri.”

“Aku mengenalmu, Ka. Sebelum sesuatu yang aku nggak tahu itu apa, kamu nyaman denganku.”


Mika sadar, sudah saatnya dia meninggalkan masa-masa terpuruk dalam hidupnya. Menjalani kehidupan normal selaiknya seorang perempuan dewasa yang bahagia, seperti kata sahabatnya. Menemukan seseorang yang tepat, menjalani hubungan yang serius, kemudian menikah.

Lalu Mika bertemu Rajata. Semua nyaris sempurna seperti harapan semua orang untuknya, sebelum sebuah kenyataan menyakitkan menghantamnya telak. Membuatnya perlahan-lahan menghindari laki-laki itu, mengubah haluan menjadi seorang pesimis yang tak percaya pada kekuatan cinta. Dia berusaha mematikan perasaannya tanpa tahu kalau Rajata justru mati-matian memperjuangkannya.

Jika dua orang yang sudah tak sejalan bertahan di atas kapal yang nyaris karam, akankah mereka bertahan bersama, atau mencari kapal lain untuk menyelamatkan diri masing-masing?


*****

Mika seorang gadis berparas eksotis yang hidupnya berubah menjadi kelam semenjak roda kehidupan mengubah haluan.  Pertemuan tak terduga dengan Rajata membuat perubahan kecil dalam hidupnya. Ketika Mika mulai terbiasa dengan kehadiran Rajata, fakta baru terkuak sehingga Mika mulai membuat jarak. Masalalu yang sulit termaafkan dan menenggelamkan Mika dalam perasaan kehilangan dan penyesalan mendalam. Mika menyerah namun tidak dengan Rajata. Akankah perjuangan Rajata membuahkan akhir bahagia? Atau hanya berujung sia-sia?



Mengenal tokoh Mika membuat saya belajar beberapa hal. Diantaranya adalah kesinisan yang menjadi karakternya. Beberapa orang akan mengalami perubahan menyesuaikan kondisi lingkungan dan tekanan hidup yang ia rasakan, seperti Mika. Saya salut, tokoh Mika ini selalu berusaha berpikiran selogis mungkin demi membentengi diri. Saya membayangkan betapa berat beban yang dipikulnya. Persinggungan dengan tokoh Rajata yang tidak terduga saya rasa sangat unik. Rajata yang memiliki paras bak bintang hiburan dengan kesabaran dan kegigihan yang luar biasa.


Bacaan dark themed favorit saya banget. Anyway, saya suka sama layout buku ini. Tiap awal bab selalu ada kutipan, latarnya cocok dan cakep. Buku yang profesi tokoh utamanya seorang dokter ini membahas tentang dunia kedokteran dengan cukup detail. Penggunaan alur campuran yang dibeberapa bagian cukup menguras emosi. Sayangnya, saya menemukan beberapa typo dan ketidaksesuaian nama tokoh yang semestinya. Saya harap dicetakan selanjutnya bisa lebih baik lagi 💕💕💕

Selasa, 24 April 2018

[REVIEW] Tentang Cinta Yang Tak Lagi Sama : Memori


Judul: Memori
Penulis: Windry Ramadhina @beingfaye
Editor: eNHa
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: @gagasmedia
ISBN: 979-780-562-x
Cetakan pertama, 2012
Tebal Buku: 304 halaman



Sinopsis

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi. 
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini. 
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman. 
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.


*****


Mahoni seorang arsitek yang bekerja di Virginia terpaksa harus kembali ke Indonesia karena berita duka—kematian Ayahnya. Awalnya ia berniat ke Indonesia hanya untuk sesaat. Namun, rupanya prediksinya tidak tepat. Sebuah tanggungjawab baru yang menurutnya adalah bencana di hidupnya terpaksa ia terima.


Mahoni berusah keras menyesuaikan diri dengan ritme baru yang terjadi di kehidupannya. Ternyata, takdir mempertemukannya dengan seseorang di masalalu. Seseorang yang punya andil besar dalam stabilitas hatinya.


Segalanya semakin rumit. Saat Mahoni dihadapkan pada pilihan yang menurutnya sulit dan membuat hatinya sakit.


*****

Buku yang menggunakan sudut pandang orang pertama ini erat kaitannya dengan dunia arsitektur. Tokoh utama yang merupakan seorang arsitek membuat pembahasan mengenai arsitektur sangat kental. Pembahasan mengenai berbagai jenis desain, sejarah arsitek, tokoh-tokoh yang berpengaruh serta pembahasan pekerjaan lapangan digali dengan sangat  detail dan tidak sekedar tempelan.


Karakter tokoh Mahoni yang idealis, cukup membuat saya terkesan. Saya merasakan emosi Mahoni yang kaku terhadap klien mengenai desain. Mahoni mendesain demi idealisme sementara tokoh Simon dan yang lain kebalikannya, perbedaan inilah yang menciptakan situasi yang menarik dalam lingkup pekerjaannya.


Sementara itu, kehadiran tokoh Sigi—adik tirinya, menciptakan suasana kaku yang berubah menjadi mengharu biru. Sayangnya, saya merasa ada yang kurang pada saat Sigi mengalami kesedihan mendalam. Bagaimana Sigi bangkit dari kesedihan saya rasa kurang diperjelas walaupun sekilas.


Saya kira, konflik keluarga akan selesai ketika Mahoni mulai menerima Sigi walaupun belum sepenuhnya. Namun, saya salah. Kemunculan tokoh Mae sang ratu drama yang masih terjebak dalam pengasihanian diri sendiri sempat membuat Mahoni dilema antara Sigi atau Ibunya.


Puncak dari konflik adalah ketika Mahoni berada di situasi terpojok. Saat hatinya masih pada Simon namun kenyataan seolah tidak memungkinkan. Dengan menggunakan alur campuran, kenangan-kenangan bersama Simon membuat Mahoni gelisah. Apa yang belum terselesaikan seolah menuntut akhir kisah.


Buku yang mengaduk emosi ini tidak hanya mengambil setting Metropolitan Jakarta melainkan juga di Yogyakarta. Pengambilan setting yang berbeda saya rasa detail yang dijabarkan untuk mendukung suasananya cukup kentara.

Membaca novel ini saya memetik banyak hal diantaranya adalah : berdamai dengan masalalu, pentingnya kompromi dan juga kita tak akan bisa memaksakan agar setiap orang merasa bahagia karena kebahagiaan adalah pilihan masing-masing individual. Bagaimana menghadapi masalah dan mengatasi gejolak hati adalah kunci menuju bahagia.

Jumat, 20 April 2018

[REVIEW] Kisah Manis Dalam Buku Man Candy



Judul : Man Candy
Penulis : Indah Hanaco
Editor : Christian Simamora
Penerbit : Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
Tebal : viii + 304 halaman; 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-61138-7-0



Aku ingin mencintaimu seperti benang-benang yang jatuh dari pangkuan seorang ibu ; tak peduli apakah nantinya kau akan memilihku atau harapku berhenti di simpang jalan yang kau tuju.


Saat kau datang waktu itu, aku tak tahu apa yang perlu kusembunyikan lebih dulu darimu - senyum atau tatapan. Namun, kupastikan untukmu ; sengaja tak kukunci pintu itu, berjaga jika sewaktu-waktu kau merasa tuntas dengan segala urusanmu, lalu pamit dan berlalu. Aku ingin mencintaimu seperti anak yang berlari dan kembali pulang ; tak peduli apakah tubuhku sudah menjadi begitu lelah dan kau hanya diam melihatku yang tak mampu menahan rindu.



Malam itu, aku tiba di masa lalumu? Sesuatu yang tak kau ungkapkan pada perempuan-perempuan lain dalam hidupmu. Kudekap seluruh kekhawatiranmu dan kupastikan kau akan baik-baik saja di sini bersamaku. Kepalamu merebah, kata-kata dari benakmu merekah. Hari tak pernah terlalu larut di lantai dua puluh. Dan kota yang ramai begitu jauh... lalu meluruh.



****


Apa yang terbayang dalam benak kalian ketika membaca judul buku 'Man Candy'? Ketika saya membaca judul buku 'Man Candy' yang ada di dalam benak saya adalah seorang pria yang romantis dan seolah memiliki magis untuk memikat hati setiap gadis. Namun, ternyata dugaan saya sedikit meleset. Dalam buku yang mengangkat kisah Tory—Gabriel ini memang terdapat unsur romantis. Tetapi, bukan romantis menye-menye adegan saling memandang, lalu saling lempar pujian atau bahkan gombalan-gombalan receh yang bertebaran. Dua tokoh utama ini memiliki interaksi yang unik.

Tory seorang bridal consultan di Happy Day yang baru putus dengan pacarnya selama 5 tahun bertemu dengan Gabriel/Gabe seorang pria suamiable pendiri Man Candy. Gabriel yang digilai wanita dan memiliki tentetan kisah asmara dengan wanita yang berbeda-beda membuat Tory awalnya menganggap bahwa Gabe sama brengseknya lelaki di luar sana.

"Maaf ya, Ta, jangan tersinggung kalau kubilang, saat ini aku tidak berminat pada semua makhluk berhormon testosteron. Apalagi tipe seperti bosmu yang sudah pasti, maaf, mata keranjang. Suka gonta-ganti pacar, katamu tadi." —Man Candy, halaman 52

Pemikiran negatif Tory soal Gabe semakin diperparah oleh omongan Reyta—sahabatnya sekaligus anak buah Gabe. Namun, Tory tidak pernah tahu. Gabriel tidak seperti dugaannya. Ada sebuah sebab yang membuat Gabriel gonta-ganti pasangan. Ada luka yang dalam dan kelam yang disimpan Gabe rapat-rapat. Hingga kemudian sosok dari masalalu muncul kembali. Helen, mantan pacar Gabe yang putus urat malunya dan menurutku terobsesi jadi orang kaya.

Tokoh yang paling menyebalkan dalam buku ini menurut saya adalah Helen. Karakternya yang arogan, ambisius dan tidak tahu malu membuat saya luar biasa kesal. Tokoh yang tidak kalah menyebalkan adalah Bram—mantan pacar Tory. Jika, Helen terobsesi menjadi orang kaya, maka Bram terobsesi untuk menakhlukkan wanita yang telah melukai harga dirinya. Bram yang songong pamer kemesraan dan tiba-tiba meminta balikan membuat Tory sempat kelimpungan. Namun, dengan adanya kegilaan Bram dan Helen membuat Tory—Gabe semakin dekat.

Tokoh-tokoh dalam buku Man Candy memiliki karakter beragam. Karakter tiap tokoh cukup kuat sehingga emosi tiap dialognya terasa. Selain tokoh-tokoh yang sebutkan di atas, ada beberapa tokoh lain, diantaranya :


•Anya, Kakak dari Tory yang realistis yang sebenarnya bisa dibilang matrealistis.

•Ian, Kakak Tory yang berusaha adil dan bijaksana 'tidak ingin mencampuri urusan Tory dan mantan pacarnya terlalu jauh'.

•Marina, karyawan Gabe sekaligus penggemar beratnya yang paling konsisten. Kasihan juga sih sama Marina yang tetep bertahan meskipun berulang kali patah hati lihat bos Gabe jalan sama do'i yang beda berkali-kali.

•Ibu Tory, pendukung Bram garis keras. Sampai-sampai tidak melihat keburukan Bram sama sekali.

Buku ini erat kaitannya dengan dunia fashion, khususnya pakaian. Penjelasan mengenai fashion sangat detail. Ada beberapa kosakata seputar desain pakaian yang dapat dipahami melalui footnote. Sangat informatif. Detail mengenai fashion, setting tempat, suasana saya rasa sangat pas.

Omong-omong soal buku, pasti yang bikin gregetan itu salah satunya adalah konflik. Nah, di dalam buku Man Candy konfliknya tidak melulu soal Tory—Gabe tapi juga ada konflik yang berhubungan dengan keluarga. Penyelesaiannya tidak sesederhana yang saya duga. Proses yang cukup panjang dan perlu pihak ketiga sebagai penengah. Yang paling membuat kesal disaat Tory—Gabe berada di titik renggang hingga suatu insiden menyadarkan mereka bahwa satu sama lain saling membutuhkan.

Tidak hanya konflik antar tokoh, konflik batin yang dialami Gabe pun membuat saya geleng-geleng kepala. Ah, Gabe si tampan dengan semua trauma yang membuatnya stuck di titik yang sama dan Tory yang selalu krisis kepercayaan benar-benar mengaduk perasaan.

"Memaafkan orang lain itu sungguh tidak mudah. Apalagi mengampuni diri sendiri." —Man Candy

"Apa maksud mantan yang begitu jahat saat tiba-tiba muncul di depanmu? Cuma mau jalin silaturahmi? Yang paling masuk akal, dia baru menyadari kalau kamu belahan jiwanya."—Man Candy

Rabu, 10 Januari 2018

[REVIEW] Voice in My Head 'Asa dan Romansa'

Judul : Voice in My Head
Penulis : Lilian Chan
Penerbit : @penerbitharu
Penerjemah : Yudith Listiandri
Tebal : 192 halaman

Blurb

Tessa Goh bermimpi untuk menjadi seorang penulis.
Hanya saja, persaingan menjadi seorang penulis bukanlah hal yang mudah. Dia harus cukup bersyukur untuk menjadi seorang resepsionis di sebuah klinik kecantikan, melayani wanita-wanita kelas atas di Bangsar. Bos yang baik, kolega yang hebat, klien yang menarik. Apalagi yang bisa dia minta?
Ah, mungkin dia bisa meminta seorang pemuda tampan, kaya, dan cerdas sebagai seorang kekasih. Aran Shankar memenuhi semua kriteria itu. Hanya saja, ada masalah yang berkecamuk di dalam kepalanya. 
Tessa mulai mendengar pikiran-pikiran orang lain, termasuk ibu Aran. Hal-hal yang jahat dan kejam.
Hanya saja, apakah itu benar-benar pikiran sang ibu, atau itu hanya suara di dalam kepalanya saja?

****

Ini pertama kalinya saya membaca my-novel. Kebetulan kisah yang diangkat memiliki keterkaitan dengan 'sebuah impian' dan percintaan yang menjadi salah satu alasan saya tertarik untuk membaca Voice in My Head. Dua tokoh dengan perbedaan status sosial yang mencolok menciptakan suatu konflik yang cukup kuat. Memang buku ini mengambil tema yang umum namun penulis meraciknya dengan baik dengan menambahkan bumbu persahabatan, impian dan nasionalisme. Persahabatan antara Tessa—Jeff, impian Tessa untuk menjadi seorang penulis serta nasionalisme tokoh yang ada di dalam masa lalu Aran. Saya salut, pada bagian ketika Aran berusaha membangun bisnis namun mengekspos produk dalam negeri. Dan saya juga belajar dari apa yang terjadi pada tokoh Tessa bahwa hidup tidak melulu soal yang dipikirkan orang lain. Terkadang kita harus lebih mencintai diri sendiri agar merasa bahagia.

"Kau menyebutnya kuno. Aku menyebutnya tradisi. Kita punya cara sendiri-sendiri dalam memandang sesuatu." -Halaman 123

Dalam novel ini, tidak hanya ada tokoh protagonis tapi ada pula tokoh antagonis yakni Datin Shankar—Ibu Aran. Wanita sosialita yang memandang seseorang berdasarkan 3B (binit, bebet, bobot), licik serta menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Termasuk memperalat Jeff.

"Suatu hari nanti, akhirnya dia akan tahu bahwa terkadang semua yang kita butuhkan adalah cinta."  -Halaman 182

Anyway this is one of my favourite quotes. Di tengah kekesalan saya pada karakter Datin Shankar yang kebangetan, buku ini juga menyuguhkan romantisme yang membuatnya seimbang dan bikin mupeng. Ada beberapa kalimat yang quotable dan cukup menyentil. Tiap tokoh memiliki penggambaran yang pas memiliki kelebihan dan kekurangan, terasa nyata dan mudah dibayangkan. Karakter tokoh utama yang unik seolah dan membuat saya bercermin. Selama ini, kita sering kali berpikiran negatif pada suatu hal padahal belum tentu demikian.

"Kau memang tidak tahu, tapi tidak apa-apa. Kau membuatku sadar bahwa yang harus kujalani ini adalah hidupku sendiri. Bukan hidup orang lain." -Halaman 178


Buku yang memiliki cover manis ini menggunakan alur cepat. Saya merasa ada bagian yang agak loncat di bab-bab awal. Namun, tidak terlalu ekstrim. Ending dari buku ini, agak membuat kecewa bagi pecinta happy ending. Tapi, bukan berarti kisah Tessa—Aran sad ending loh, ya?😁

💕3.5/5

Minggu, 07 Januari 2018

[REVIEW] Novel The Girl on Paper

Judul buku: The Girl On Paper
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Spring
Tebal : 448 halaman

Sinopsis
Gadis itu terjatuh dari dalam buku.
Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer's block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.
Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.
Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.
Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?

*****

Membaca beberapa halaman pertama saya merasa seperti sedang menjadi salah satu bagian dari buku. Halaman pertama disuguhkan pengantar berupa berita harian. Mengangkat tema yang benar-benar unik dan menggelitik. Patah hati yang dialami tokoh Tom yang menyebabkan kehancuran karir dan hidupnya. Keputusasaan yang melanda Tom membuatnya terjatuh dalam kubangan yang amat dalam. Ia seolah tak memiliki harapan dan terjebak dalam kegelapan. Namun, hadirnya tokoh Billie membuat semuanya berubah.
Buku yang menyajikan romansa, fantasi dan petualangan ini memiliki tokoh berkarakter kuat. Tom dengan segala ketidakberdayaannya karena cinta, serta Billie dengan kegagalan dalam setiap kisah asmara dan kenyataan tentang dirinya yang konon tidak bisa kembali ke dunia fiksi jika Tom tidak menulis buku seri ketiganya. Dua tokoh yang saling melengkapi dan saling menyembuhkan.
Oiya, selain Tom-Billie masih ada tokoh Carole-Milo yang berperan sebagai sahabat Tom. Karena ide gila mereka, petualangan Tom-Billie dimulai.
Buku ini menggunakan dua sudut pandang yakni, sudut pandang ketiga dan sudut pandang pertama di beberapa bagian. Dan, twist buku ini menurut saya tidak tertebak. Saya sangat terkejut dengan endingnya yang luar biasa!
4.5/5

Sabtu, 16 Desember 2017

[REVIEW] Kausalitas Keegoisan dalam 'Because of You'

Pernahkah kalian mengalami sebuah masa ketika keegoisan memenangkan segalanya dan menyisakan sesal? Lalu, apa yang kalian lakukan setelah dihantui penyesalan? Barangkali kisah dalam buku ini akan membuat kita menyadari betapa dasyat dampak dari sebuah keegoisan.

Judul buku : Because of You
Penulis : Xi Zhi
Penerbit : Penerbit Haru
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Tebal : 218 halaman
Rate : 4.2/5

Sinopsis

Feng Ling kehilangan ayahnya saat masih remaja.

Ibunya juga meninggalkannya karena sakit jantung.
Dia terpaksa bekerja di rumah majikan ibunya untuk membiayai hidup.
Majikannya itu baik, dan Feng Ling bisa melanjutkan sekolahnya sambil bekerja.
Dia pikir kesulitan hidupnya telah berlalu, dan hidupnya akan menjadi lebih baik. 

Namun, siapa sangka semuanya berubah dalam sekejap.
Semuanya dimulai dari permintaan Tuan Muda Kedua.
Permintaan itu menyebabkan Feng Ling sampai tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi besok atau lusa.
Dia hanya bisa membayangkan kapan dunia ini berhenti.

****

Kisah dua tokoh utama Feng Ling—Guan Zhen dibuka dengan adegan yang membuat saya penasaran. Saya menerka-nerka ada apa di antara mereka berdua sebenarnya.

"Feng Ling, apakah kau tahu...." Guan Zhen dengan semangat memegang bahunya dan berkata.

Dengan cepat Feng Ling menghempaskan tangannya, "Maaf anda salah orang."

Sejak awal kisah nuansa melow sudah terasa sangat kental. Semakin saya menjelajah ke halaman-halaman selanjutnya saya semakin terbawa alur yang mengaduk-aduk emosi pembaca. Penggunaan alur campuran sukses membuat saya penasaran.

-Karakter
Tokoh Guan Zhen memiliki karakter yang egois, tempramental dan cukup membuat saya gregetan. Tingkahnya kekanakan dan otoriter membuat saya merasa kasihan pada Feng Ling yang selalu menjadi korban. Dan luar biasanya adalah, Feng Ling tidak pernah melawan dan patuh pada Guan Zhen. Saya penasaran, apakah karakter Guan Zhen ini memang pada dasarnya demikian? Atau ada faktor yang mengubah karakter aslinya?

"Apa benar begitu? Dia adalah perpaduan antara buruk dan baik?" -Because of You, halaman 44

Karakter Guan Zhen sangat kontras dengan tokoh Bai Luo Yi. Tokoh Nai Luo Yi memiliki karakter yang lebih tenang, sopan dan bijaksana. Tokoh Bai Luo Yi selalu bersikap baik pada Feng Ling.

"Jangan anggap dia sebagai boneka yang tidak punya akal. Berbaik hatilah. Bagaimnapun dia masih enam belas tahun." -Because of You, halaman 56

Ada satu tokoh yang hanya muncul dibagian awal dan akhir cerita. Yi Qian tokoh yang pantang menyerah dalam menghadapi penyakit yang dideritanya.

"Ibu bekerjalah lebih keras agar dokter bisa menggunakan obat terbaik untuk menyembuhkanku." -Because of You, halaman 150

-Setting
Awal kisah Feng Ling—Guan Zhen mengambil setting Tiongkok. Tidak dijabarkan mendetail secara visual tapi melalui hal-hal keseharian yang menciptakan nuansa Tiongkok yang kental. Tidak hanya Tiongkok, tapi novel ini juga mengambil setting New York yang membuat kehidupan dua tokoh utamanya berubah dari sebelumnya.

-Konflik
Ini adalah hal yang paling sulit saya jabarkan. Semoga saya tidak spoiler, ya. Kehidupan Feng Ling yang malang berubah ketika bertemu Guan Zhen. Sikap Guan Zhen yang jauh dari kata 'baik' perlahan menjadi agak aneh dan membuat sekitarnya terheran-heran. Keegoisan Guan Zhen membuat Feng Ling tidak mempunyai pilihan. Guan Zhen tetap Guan Zhen yang selalu semaunya. Bahkan, hingga setting berubah di New York pun masih tetap sama.

"Aku tidak ingin kau bersama orang lain, hanya boleh bersamaku saja. Mengerti!" -Because of You, halaman 103

Guan Zhen selalu membuat Feng Ling terbang tanpa adanya suatu kejelasan. Hingga, akhirnya muncul percikan api yang mengundang tragedi besar. Guan Zhen dengan keegoisannya memilih sebuah keputusan yang membuatnya dihantui perasaan sesal di kehidupan mendatang.

"Kau benar. Aku selalu mencari bayangan ibuku pada setiap wanita." -Because of You, halaman 151

Guan Zhen kehilangan Feng Ling. Dan Guan Zhen melewatkan momen bersama Yi Qian.

Konflik dalam 'Because of You' disusun dengan rapi. Tidak terlalu lambat atau terlalu cepat. Pas dan menghanyutkan. Saya sampai berderai air mata selama menghabiskan buku ini dalam sekali baca. Penyelesaian konflik membuat saya histeris karena membayangkan hal-hal miris. Namun, ternyata kisah ini berujung manis.
.
.
Buku ini membuat saya rela duduk manis di sofa dan menghabiskannya dalam sekali baca karena plot twist yang sukses dan kekuatannya dalam mengaduk emosi pembaca. Selain itu buku ini penuh dengan kalimat-kalimat quotable yang cocok buat baper-baper ria. Berikut beberapa quotes favorit saya :

"Kegagalan mengajarkannya bahwa menangis hanya akan menghabiskan tenaga, dan dia juga memegang prinsip hidup tidak menyerah." (halaman 17)

"Berikan dia kesempatan untuk berubah. Suatu saat dia akan menyadari kesalahannya." (halaman 60)

"Bersembunyi bukan penyelesaian yang baik. Kalau aku jadi dirimu, aku akan menghadapinya." (halaman 140)

"Semua bukan salahmu. Hidup ini sangat sulit diprediksi" (Guan Zhen, halaman 207)

Jumat, 15 Desember 2017

[REVIEW] Rainbow After The Rain : Runtuhnya Religiositas Akibat Terorisme dalam 'Rainbow After The Rain"

Bagaimana pendapatmu mengenai tindak terorisme?
Benarkah terorisme adalah bentuk dari jihad? Atau hanya untuk kepentingan kalangan tertentu? Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika salah satu anggota keluargamu menjadi korban dari aksi terorisme? Mari kita temukan jawabannya melalui buku bersampul manis ini.

Judul Buku : Rainbow After The Rain ( Love in Moskow)
Penulis : Angelique Puspadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 218 halaman
Rate : 3.6/5

Sinopsis

Arabel adalah keluarga korban terorisme yang mendendam. Suatu hari, gadis yang berprofesi sebagai penulis ini ditantang editornya menulis kisah bertema terorisme.

Semua berawal dari kedatangan sepupu Arabel, Reno dan Sarah, untuk bulan madu di Rusia. Reno membawa sahabatnya, Dimitri, yang perlahan tapi pasti membuat Arabel sadar bahwa teror adalah sifat manusia yang tidak terkait agama mana pun.

Seiring waktu, Arabel jatuh cinta pada Dimitri. Pria itu dan riset penulisan menjadi alasannya datang ke Bali. Padahal sejak kejadian Paddy’s, Arabel bersumpah tidak akan menginjakkan
kaki ke Pulau Dewata. Di tempat itu pula semua kesakitan kembali datang. Dimitri membongkar rahasia besar yang menjungkir-balikkan dunia Arabel.

Akankah Arabel menerima Dimitri dan masa lalunya seperti pelangi yang datang setelah hujan?

-Tema
Kisah yang mengangkat percintaan seorang gadis yang keluarganya menjadi korban terorisme. Kehidupan tokoh Arabel berubah kelam. Kekecewaan pada takdir membuat hati Arabel dirundung kegelapan. Segalanya berubah semenjak insiden Paddy's. Arabel berpikir takdir mempermainkannya dengan amat kejam. Ia bahkan berpikir bahwa Tuhan tidak mau lagi mendengarkan do'anya. Tuhan tidak sayang pada dirinya. Semua yang dia lakukan seperti sholat, mengaji dan puasa sia-sia. Arabel memutuskan tidak mempercayai Tuhan. Berlari sejauh mungkin dengan cara berpindah keyakinan. Kejadian itu meruntuhkan keyakinannya. Membaca kisah Arabel ini membuat saya berpikir, bagaimana jika saya yang berada di posisinya? Tema yang jarang diangkat ini akan membuat pembacanya berfikir lebih dalam.

-Karakter
Karakter tokoh Arabel dalam novel ini sangat berbeda dengan Ana—Ibu Arabel. Ana yang lebih agamis selalu bersabar menghadapi tingkah Arabel. Walaupun Arabel berusaha keras agar Ana mengizinkannya pindah keyakinan tapi Ana punya trik jitu agar Arabel gagal. Saya salut dengan tokoh Ana, walaupun ia terluka dan amat sangat sulit melupakan suaminya tapi ia berusaha selalu tegar dan lapang dada. Ana berusaha meyakinkan anaknya bahwa setiap ujian ada hikmahnya. Ia tidak lelah mendoakan Arabel agar mendapat hidayah-Nya.

Ketika tokoh Reno, Sarah dan Dimitri masuk dalam kehidupan Arabel, pergolakan pun terjadi. Awalnya mereka tidak tahu bahwa keimanan Arabel telah runtuh. Ketika ketiganya tahu, mereka sangat berempati dan berusaha membantu Arabel membangun kembali keimanannya. Saya sangat suka pada bagian ketika Arabel mulai menemukan pelita yang telah redup. Ia menemukan jawaban atas peetanyaan 'mengapa Tuhan tidak mengabulkan do'anya?'

"Dan apabila hamba-hamba—Ku bertanya tentang Aku, maka jawablah bahwasannya aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia berdo'a kepada—Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala pertintah—Ku dan hendaklah mereka beriman kepada—Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (halaman 74)

Tidak dengan cara memaksa, walaupun tidak dapat terelakkan sering kali terjadi perdebatan. Sosok Dimitri yang tampan, religius dan sangat sopan membuat Arabel jatuh hati. Karakter Dimitri ini benar-benar idaman sekali. Tokoh Dimitri seolah memiliki aura yang sangat tenang.

Setelah hatinya mulai meletup-letup karrna potongan ayat yang amat menohoknya. Arabel mulai mempelajari Al-Qur'an lagi. Kali ini, ia menemukan jawaban mengenai tindak terorisme yang terdapat dalam potongan surah Al-Baqarah ayat 190.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (halaman 78)


Dimitri memberikan penjelasan kepada Arabel dengan gamblang dan mudah dimengerti. Sedikit cuplikan dari penjelasan dari Dimitri yang sangat melekat, " ... siapapun mereka yang melakikan tindak terorisme, yang bertindak di luar batas aturan, itu karena nafsu individu itu sendiri. Tidak ada hubungan dengan agama yang dianut. Sebab tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan."


-Setting

Menggunakan setting beberapa tempat yang tidak hanya di Indonesia, novel ini mengajak saya menjelajah. Keindahan kota Moskow yang dijabarkan membuat saya tidak sulit untuk membayangkannya.

-Konflik
Perkembangan konfliknya cukup dinamis. Awalnya, seputar Arabel yang hilang keimanan kemudian Arabel jatuh hati, tantangan menulis untuk menyembuhkan luka, hingga sampai di klimaks. Luar biasa. Satu persatu konflik diuraikan hingga konflik utama yang berakhir manis.

Buku ini tidak hanya soal romansa namun juga agama. Buku ini saya selesaikan dalam sekali baca. Karena setiap membuka halaman demi halaman, saya enggan berhenti. Kejutan diakhir cerita cukup membuat berdebar-debar. Banyak hal yang saya pelajari dari buku ini. Saya memperoleh banyak pengetahuan spiritual yang tidak terkesan menggurui dan mudah diselami. Walaupun, saya menemukan beberapa typo namun tidak mengurangi minat baca saya terhadap buku ini.