Sabtu, 16 Desember 2017

[REVIEW] Kausalitas Keegoisan dalam 'Because of You'

Pernahkah kalian mengalami sebuah masa ketika keegoisan memenangkan segalanya dan menyisakan sesal? Lalu, apa yang kalian lakukan setelah dihantui penyesalan? Barangkali kisah dalam buku ini akan membuat kita menyadari betapa dasyat dampak dari sebuah keegoisan.

Judul buku : Because of You
Penulis : Xi Zhi
Penerbit : Penerbit Haru
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Tebal : 218 halaman
Rate : 4.2/5

Sinopsis

Feng Ling kehilangan ayahnya saat masih remaja.

Ibunya juga meninggalkannya karena sakit jantung.
Dia terpaksa bekerja di rumah majikan ibunya untuk membiayai hidup.
Majikannya itu baik, dan Feng Ling bisa melanjutkan sekolahnya sambil bekerja.
Dia pikir kesulitan hidupnya telah berlalu, dan hidupnya akan menjadi lebih baik. 

Namun, siapa sangka semuanya berubah dalam sekejap.
Semuanya dimulai dari permintaan Tuan Muda Kedua.
Permintaan itu menyebabkan Feng Ling sampai tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi besok atau lusa.
Dia hanya bisa membayangkan kapan dunia ini berhenti.

****

Kisah dua tokoh utama Feng Ling—Guan Zhen dibuka dengan adegan yang membuat saya penasaran. Saya menerka-nerka ada apa di antara mereka berdua sebenarnya.

"Feng Ling, apakah kau tahu...." Guan Zhen dengan semangat memegang bahunya dan berkata.

Dengan cepat Feng Ling menghempaskan tangannya, "Maaf anda salah orang."

Sejak awal kisah nuansa melow sudah terasa sangat kental. Semakin saya menjelajah ke halaman-halaman selanjutnya saya semakin terbawa alur yang mengaduk-aduk emosi pembaca. Penggunaan alur campuran sukses membuat saya penasaran.

-Karakter
Tokoh Guan Zhen memiliki karakter yang egois, tempramental dan cukup membuat saya gregetan. Tingkahnya kekanakan dan otoriter membuat saya merasa kasihan pada Feng Ling yang selalu menjadi korban. Dan luar biasanya adalah, Feng Ling tidak pernah melawan dan patuh pada Guan Zhen. Saya penasaran, apakah karakter Guan Zhen ini memang pada dasarnya demikian? Atau ada faktor yang mengubah karakter aslinya?

"Apa benar begitu? Dia adalah perpaduan antara buruk dan baik?" -Because of You, halaman 44

Karakter Guan Zhen sangat kontras dengan tokoh Bai Luo Yi. Tokoh Nai Luo Yi memiliki karakter yang lebih tenang, sopan dan bijaksana. Tokoh Bai Luo Yi selalu bersikap baik pada Feng Ling.

"Jangan anggap dia sebagai boneka yang tidak punya akal. Berbaik hatilah. Bagaimnapun dia masih enam belas tahun." -Because of You, halaman 56

Ada satu tokoh yang hanya muncul dibagian awal dan akhir cerita. Yi Qian tokoh yang pantang menyerah dalam menghadapi penyakit yang dideritanya.

"Ibu bekerjalah lebih keras agar dokter bisa menggunakan obat terbaik untuk menyembuhkanku." -Because of You, halaman 150

-Setting
Awal kisah Feng Ling—Guan Zhen mengambil setting Tiongkok. Tidak dijabarkan mendetail secara visual tapi melalui hal-hal keseharian yang menciptakan nuansa Tiongkok yang kental. Tidak hanya Tiongkok, tapi novel ini juga mengambil setting New York yang membuat kehidupan dua tokoh utamanya berubah dari sebelumnya.

-Konflik
Ini adalah hal yang paling sulit saya jabarkan. Semoga saya tidak spoiler, ya. Kehidupan Feng Ling yang malang berubah ketika bertemu Guan Zhen. Sikap Guan Zhen yang jauh dari kata 'baik' perlahan menjadi agak aneh dan membuat sekitarnya terheran-heran. Keegoisan Guan Zhen membuat Feng Ling tidak mempunyai pilihan. Guan Zhen tetap Guan Zhen yang selalu semaunya. Bahkan, hingga setting berubah di New York pun masih tetap sama.

"Aku tidak ingin kau bersama orang lain, hanya boleh bersamaku saja. Mengerti!" -Because of You, halaman 103

Guan Zhen selalu membuat Feng Ling terbang tanpa adanya suatu kejelasan. Hingga, akhirnya muncul percikan api yang mengundang tragedi besar. Guan Zhen dengan keegoisannya memilih sebuah keputusan yang membuatnya dihantui perasaan sesal di kehidupan mendatang.

"Kau benar. Aku selalu mencari bayangan ibuku pada setiap wanita." -Because of You, halaman 151

Guan Zhen kehilangan Feng Ling. Dan Guan Zhen melewatkan momen bersama Yi Qian.

Konflik dalam 'Because of You' disusun dengan rapi. Tidak terlalu lambat atau terlalu cepat. Pas dan menghanyutkan. Saya sampai berderai air mata selama menghabiskan buku ini dalam sekali baca. Penyelesaian konflik membuat saya histeris karena membayangkan hal-hal miris. Namun, ternyata kisah ini berujung manis.
.
.
Buku ini membuat saya rela duduk manis di sofa dan menghabiskannya dalam sekali baca karena plot twist yang sukses dan kekuatannya dalam mengaduk emosi pembaca. Selain itu buku ini penuh dengan kalimat-kalimat quotable yang cocok buat baper-baper ria. Berikut beberapa quotes favorit saya :

"Kegagalan mengajarkannya bahwa menangis hanya akan menghabiskan tenaga, dan dia juga memegang prinsip hidup tidak menyerah." (halaman 17)

"Berikan dia kesempatan untuk berubah. Suatu saat dia akan menyadari kesalahannya." (halaman 60)

"Bersembunyi bukan penyelesaian yang baik. Kalau aku jadi dirimu, aku akan menghadapinya." (halaman 140)

"Semua bukan salahmu. Hidup ini sangat sulit diprediksi" (Guan Zhen, halaman 207)

Jumat, 15 Desember 2017

[REVIEW] Rainbow After The Rain : Runtuhnya Religiositas Akibat Terorisme dalam 'Rainbow After The Rain"

Bagaimana pendapatmu mengenai tindak terorisme?
Benarkah terorisme adalah bentuk dari jihad? Atau hanya untuk kepentingan kalangan tertentu? Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika salah satu anggota keluargamu menjadi korban dari aksi terorisme? Mari kita temukan jawabannya melalui buku bersampul manis ini.

Judul Buku : Rainbow After The Rain ( Love in Moskow)
Penulis : Angelique Puspadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 218 halaman
Rate : 3.6/5

Sinopsis

Arabel adalah keluarga korban terorisme yang mendendam. Suatu hari, gadis yang berprofesi sebagai penulis ini ditantang editornya menulis kisah bertema terorisme.

Semua berawal dari kedatangan sepupu Arabel, Reno dan Sarah, untuk bulan madu di Rusia. Reno membawa sahabatnya, Dimitri, yang perlahan tapi pasti membuat Arabel sadar bahwa teror adalah sifat manusia yang tidak terkait agama mana pun.

Seiring waktu, Arabel jatuh cinta pada Dimitri. Pria itu dan riset penulisan menjadi alasannya datang ke Bali. Padahal sejak kejadian Paddy’s, Arabel bersumpah tidak akan menginjakkan
kaki ke Pulau Dewata. Di tempat itu pula semua kesakitan kembali datang. Dimitri membongkar rahasia besar yang menjungkir-balikkan dunia Arabel.

Akankah Arabel menerima Dimitri dan masa lalunya seperti pelangi yang datang setelah hujan?

-Tema
Kisah yang mengangkat percintaan seorang gadis yang keluarganya menjadi korban terorisme. Kehidupan tokoh Arabel berubah kelam. Kekecewaan pada takdir membuat hati Arabel dirundung kegelapan. Segalanya berubah semenjak insiden Paddy's. Arabel berpikir takdir mempermainkannya dengan amat kejam. Ia bahkan berpikir bahwa Tuhan tidak mau lagi mendengarkan do'anya. Tuhan tidak sayang pada dirinya. Semua yang dia lakukan seperti sholat, mengaji dan puasa sia-sia. Arabel memutuskan tidak mempercayai Tuhan. Berlari sejauh mungkin dengan cara berpindah keyakinan. Kejadian itu meruntuhkan keyakinannya. Membaca kisah Arabel ini membuat saya berpikir, bagaimana jika saya yang berada di posisinya? Tema yang jarang diangkat ini akan membuat pembacanya berfikir lebih dalam.

-Karakter
Karakter tokoh Arabel dalam novel ini sangat berbeda dengan Ana—Ibu Arabel. Ana yang lebih agamis selalu bersabar menghadapi tingkah Arabel. Walaupun Arabel berusaha keras agar Ana mengizinkannya pindah keyakinan tapi Ana punya trik jitu agar Arabel gagal. Saya salut dengan tokoh Ana, walaupun ia terluka dan amat sangat sulit melupakan suaminya tapi ia berusaha selalu tegar dan lapang dada. Ana berusaha meyakinkan anaknya bahwa setiap ujian ada hikmahnya. Ia tidak lelah mendoakan Arabel agar mendapat hidayah-Nya.

Ketika tokoh Reno, Sarah dan Dimitri masuk dalam kehidupan Arabel, pergolakan pun terjadi. Awalnya mereka tidak tahu bahwa keimanan Arabel telah runtuh. Ketika ketiganya tahu, mereka sangat berempati dan berusaha membantu Arabel membangun kembali keimanannya. Saya sangat suka pada bagian ketika Arabel mulai menemukan pelita yang telah redup. Ia menemukan jawaban atas peetanyaan 'mengapa Tuhan tidak mengabulkan do'anya?'

"Dan apabila hamba-hamba—Ku bertanya tentang Aku, maka jawablah bahwasannya aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia berdo'a kepada—Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala pertintah—Ku dan hendaklah mereka beriman kepada—Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (halaman 74)

Tidak dengan cara memaksa, walaupun tidak dapat terelakkan sering kali terjadi perdebatan. Sosok Dimitri yang tampan, religius dan sangat sopan membuat Arabel jatuh hati. Karakter Dimitri ini benar-benar idaman sekali. Tokoh Dimitri seolah memiliki aura yang sangat tenang.

Setelah hatinya mulai meletup-letup karrna potongan ayat yang amat menohoknya. Arabel mulai mempelajari Al-Qur'an lagi. Kali ini, ia menemukan jawaban mengenai tindak terorisme yang terdapat dalam potongan surah Al-Baqarah ayat 190.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (halaman 78)


Dimitri memberikan penjelasan kepada Arabel dengan gamblang dan mudah dimengerti. Sedikit cuplikan dari penjelasan dari Dimitri yang sangat melekat, " ... siapapun mereka yang melakikan tindak terorisme, yang bertindak di luar batas aturan, itu karena nafsu individu itu sendiri. Tidak ada hubungan dengan agama yang dianut. Sebab tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan."


-Setting

Menggunakan setting beberapa tempat yang tidak hanya di Indonesia, novel ini mengajak saya menjelajah. Keindahan kota Moskow yang dijabarkan membuat saya tidak sulit untuk membayangkannya.

-Konflik
Perkembangan konfliknya cukup dinamis. Awalnya, seputar Arabel yang hilang keimanan kemudian Arabel jatuh hati, tantangan menulis untuk menyembuhkan luka, hingga sampai di klimaks. Luar biasa. Satu persatu konflik diuraikan hingga konflik utama yang berakhir manis.

Buku ini tidak hanya soal romansa namun juga agama. Buku ini saya selesaikan dalam sekali baca. Karena setiap membuka halaman demi halaman, saya enggan berhenti. Kejutan diakhir cerita cukup membuat berdebar-debar. Banyak hal yang saya pelajari dari buku ini. Saya memperoleh banyak pengetahuan spiritual yang tidak terkesan menggurui dan mudah diselami. Walaupun, saya menemukan beberapa typo namun tidak mengurangi minat baca saya terhadap buku ini.

Selasa, 24 Oktober 2017

Gurihnya Keripik Gayam Sidoarjo, Peluang Bisnis Ciamik

Inocarpus fagiferus atau biasa dikenal dengan gayam, adalah salah satu tanaman khas Melanesia bagian timur khususnya dari Indonesia. Asal tanaman ini dari bangsa Malaya-Polenisia ke Mikronesia, Melanesia dan Polenisia. Pada saat ini pohon buah Gayam tersebar luas di wilayah Indonesia yang meliputi pulau Jawa, Kalimantan , Sumatera, dan sebagian Semenanjung Malaya.


Pohon Gayam merupakan salah satu jenis tanaman keras. Pohon gayam merupakan tanaman pekarangan yang berfungsi sebagai pohon peneduh. Namun, seiring dengan berkembangnya pembibitan tanaman buah-buahan dengan berbagai pola, menjadikan tanaman gayam semakin terpinggirkan. Pohon gayam tersaingi oleh jenis-jenis tanaman baru yang kebanyakan masyarakat menganggap punya nilai ekonomi yang lebih bagus.


Tekstur buah gayam relatif keras, tidak mempunyai bakal buah seperti buah pada umumnya, biji buah gayam juga bergetah, apalagi dilapisi oleh kulit luar yang keras. Beberapa hal tersebut menjadi penyebab masyarakat kurang berminat untuk mengolah dan memanfaatkan buah gayam. Masyarakat awam tentunya banyak yang  belum mengetahui manfaat gayam serta kandungan nilai gizinya.


Peluang Bisnis Inocarpus Fagiferus
Inocarpus Fagiferus atau pohon gayam merupakan sebuah tanaman yang memiliki peluang bisnis jika dapat memanfaatkan dan mengolahnya dengan baik. Mulai dari akar, batang, daun, buah, sampai kulit buahnya dapat dijadikan barang ataupun produk olahan yang bernilai jual tinggi.


Akar pohon gayam yang kering biasanya digunakan sebagai kayu bakar oleh masyarakat pada pedesaan. Sementara batang dari pohon gayam dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture, daun dari pohon gayam dapat digunakan sebagai obat diare. Sedangkan buah gayam sendiri dapat diolah menjadi barbagai macam makanan ringan yang dapat bersaing di pasar lokal maupun pasar internasional.


Sayangnya akibat ketidak populeran pohon gayam dimasyarakat membuat peluang bisnis yang terdapat pada pohon gayam tidak tereksplorasi secara maksimal. Selain itu jumlah populasi pohon gayam yang semakin sedikit mengakibatkan kelangkaan bahan baku yang hendak diolah menjadi produk  jadi.


Produsen hasil olahan Inocarpus fagiferus

Di era persaingan pasar lokal dan pasar internasional yang semakin ketat, produsen hasil olahan Inocarpus fagiferus relatif sedikit. Hal ini dapat dibuktikan dengan ketidaktahuan masyarakat terhadap produk-produk hasil olahan dari buah gayam. Misalnya, kripik dari buah gayam.


Harganya yang relatif mahal serta peminatnya masih rendah menyebabkan produk ini kurang familiar bagi masyarakat. Selain itu, produsennya juga masih sedikit. Salah satu faktornya belum ditemukan trobosan  pembudidayaan gayam sebagai tanaman bernilai ekonomis tinggi. Pohon gayam yang hampir langka dan  tidak berbuah setiap hari juga menjadi faktor penghambat pengembangan produk olahan buah gayam.


Yang kedua yaitu kulit dan akar dari pohon gayam, agar tidak terbuang sia-sia kulit dan akar pohon gayam dapat dijadikan arang. Sebelum dijadikan arang, kulit dan akar pohon gayam ini harus dikeringkan terlebih dahulu. Namun sayangnya, belum ada produsen dan konsumen tetap arang yang terbuat dari kulit dan akar buah gayam. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah beralih menggunakan kompor LPG.


Yang ketiga yaitu daun gayam sebagai obat diare. Seperti yang kita ketahui obat diare secara umum adalah daun jambu biji. Sebenarnya banyak sekali tanaman yang dapat dijadikan obat diare, yang dapat dijadikan obat herbal ataupun dikemas dalam bentuk pil dan kapsul.


Yang keempat yaitu batang pohon gayam, batang pohon gayam yang sudah tua dapat dijadikan bahan pembuatan furniture. Biasanya yang dipilih untuk bahan pembuatan furniture adalah batang yang mempunyai serat lurus dan cukup panjang, permukaan yang bagus tidak cacat dan terbebas dari serangga.


Yang terakhir yaitu bunga gayam, bunga gayam memiliki aroma khas yang kuat. Aroma khas yang dimiliki bunga gayam dapat dijadikan aroma terapi ataupun parfum. Namun sampai saat ini belum pernah diadakan penelitian mengenai hal tersebut. Padahal jika ada yang meneliti dan mengolah bunga gayam agar dapat dijadikan parfum, maka akan tercipta inovasi baru yang dapat dijadikan bisnis dan belum ada pesaingnya sama sekali.


Bagaimana proses pengolahan Inocarpus fagiferus menjadi produk olahan dan barang yang memiliki nilai ekonomis?

Cara mengolah buah gayam menjadi kripik, pertama kupas buah gayam dari kulit luar dan kulit dalam. Kemudian, iris tipis menggunakan alat pengiris atau pisau. Pada saat proses pengupasan dan pengirisan, buah gayam tidak boleh kering karena dapat mengakibatkan perubahan warna pada buah gayam menjadi merah. Kemudian masuk pada proses penggorengan. Siapkan minyak goreng didalam wajan yang dicampur dengan mentega agar rasanya lebih gurih. Pastikan minyak untuk menggoreng cukup agar keripik yang digoreng tidak berminyak dan berwarna bagus (coklat keemasan). Pastikan nyala api tidak terlalu besar dan panas pada minyak goreng tidak berlebihan. Goreng 3 sampai 5 menit, kemudian tiriskan pada wadah yang dilapisi koran agar keripik tidak mengandung banyak minyak. Taburkan garam untuk memberi rasa asin dan gurih. Pemberian bumbu pada kripik dapat dilakukan sebelum proses penggorengan. Proses ini dilakukan dengan cara mencelupkan irisan gayam pada larutan bawang putih dan garam yang telah dihaluskan.


Selain diolah menjadi kripik buah gayam juga dapat dimakan dengan cara direbus terlebih dahulu. Setelah dipisahkan dengan kulit luarnya, kemudian cuci bersih buah gayam dan masukkan dalam panci berisi air yang dicampur garam. Tambahkan daun pandan agar memberikan aroma sedap pada rebusan gayam. Tunggu sampai tekstur buah gayam menjadi lunak. Setelah itu buah gayam dapat dikosumsi ataupun dijadikan olahan lain. Prosesnya sama namun, buah gayam yang sudah direbus diparut dan ditambahkan kelapa parut serta gula.


Selain dikosumsi sebagai camilan, pohon gayam juga dapat dijadikan obat penyakit diare. Cara membuat obat diare dari daun gayam, siapkan 25 gram daun gayam yang masih segar, cuci dulu sampai bersih, potong kecil-kecil, kemudian rebus ke dalam 2 gelas air sampai mendidih kira-kira 15 menit. Hasil saringan dapat diminum dua kali sehari pada pagi dan sore.


Kandungan gizi dan manfaat

Kelebihan utama yang dimiliki pohon gayam antara lain, mampu menyerap polusi udara seperti debu karena tekstur daun yang dimilikinya bentuknya tebal, lebar serta rimbun. Sistem perakaran pohon gayam yang sangat kokoh berfungsi untuk penyimpan cadangan air bersih. Selain itu daun gayam juga dapat dijadikan obat tradisional untuk diare serta obat diare.


Buah gayam mempunyai karbohidrat yang cukup tinggi. Buah gayam memiliki kandungan zat kimia saponin yang berfungsi untuk membersihkan kotoran dalam usus besar dan saluran pencernaan. Selain itu gayam juga memiliki kandungan Flavonoida (zat antioksidan) yang berfungsi untuk kekebalan tubuh sehingga tubuh terjaga dari berbagai penyakit.


Batang pohonnya keras dan kuat,  banyak digunakan untuk  bahan baku mebelair, sisanya untuk kayu bakar, arang, dll. Hal yang istimewa adalah buahnya dapat dimasak dan dibuat makanan ringan yang sangat lezat, antara lain dikukus. Nilai ekonomi semakin melambung manakala gayam diolah menjadi keripik gayam.

Senin, 23 Oktober 2017

Bumi Padang Bergoyang

Pahit terasa
Tatkala melihat kota hancur binasa
2010 tahun pahit
Goncangan dasyat membabi buta
Apa daya mau dikata
Jutaan manusia sengsara
Rumah hancur tak tersisa
Gedung pencakar langit rata tanah
Kini semua porak poranda
Tangis mendera setiap arah
Hati berselimut duka
Menyisakan segaris luka menyiksa
Kini, kehidupan berhantu trauma

Sidoarjo, 2010

Nyanyian Korban Lumpur Panas

Lima tahun sudah kau rendam desaku
Asap mengepul, bau tak sedap mengepung kota tercintaku
Kota indah jadi lautan bencana
Tiada yang bisa mengatasinya
Tentram berganti derita
Ulahmu membuat gelisah
Rumah, desa, lenyap binasa
Musabab serakah para khalifah
Desa indah mempesona
Berganti asap dan gejolak bahaya
Kapankah engkau berakhir, mengembalikan desaku berangin semilir
Banyak orang yang singgah
Berduyun-duyun menyaksikan lautan derita
Bencana jadi tempat wisata
Nestapa, kecewa mendera

Sidoarjo, 29052011

Rabu, 20 September 2017

Motivasi Menulis

Sudah lama rupanya saya nggak update blog. Setelah bongkar-bongkar memori saya menemukan sebuah tulisan yang sayang kalau dibiarkan percuma. Jadi begini, saya mendaftar di salah satu komunitas penggiat sastra. Nah, saya ditanya 'Apa sih motivasi kamu menulis?'

Ketika seseorang telah memilih jalan untuk menjadi seorang penulis, lambat laun sebuah pertanyaan akan muncul. Apa sih yang jadi motivasi kita dalam menulis? Jawabannya pasti sangat beragam. Tergantung dari mana sudut pandang masing-masing orang. Jika, saya yang diberi pertanyaan demikian, maka apa jawaban saya?
Sederhana, saya menulis untuk diri saya. Saya menulis sebagai media ekpresi dan mengemukakan presepsi. Seperti ungkapan J.K. Rowling,

“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”.

Saya pun melakukan hal demikian. Melalui tulisan saya ingin berbagi pengalaman, baik yang saya alami sendiri maupun dialami orang-orang di sekitar saya. Banyak hal yang mendorong saya untuk mendalami dunia literasi. Sejak masih sekolah dasar, saya telah menyukai sastra. Ketika kelas 6 SD saya membaca buku-buku Kahlil Gibran. Dari sana, saya mulai tertarik untuk selalu membaca dan membaca. Saya tidak pernah berfikir kalau saya dianugerahi kemudahan dalam mengolah kata menjadi paragraf-paragraf yang membentuk cerita. Ketika saya menginjak Sekolah Menengah Pertama di sanalah saya mulai menemukan titik terang. Apresiasi dari pengajar membuat saya perlahan-lahan mendalami sastra. Saya mulai belajar menulis puisi yang berasalkan pengalaman saya pribadi. Puisi yang terinspirasi dari kehidupan saya sehari-hari. Menulis artikel di majalah dinding sekolah. Sejak saat itu, saya menyadari bahwa saya menulis karena hati yang tergerak untuk mengabadikan setiap momen melalui tulisan.

Saya punya anggapan, suatu momen pasti memiliki hal positif yang bisa dibagikan pada orang lain sebagai pembelajaran. Tidak ada seorang penulis yang mengingkan pembacanya mengalami hal yang sama seperti yang ia tulis. Dan saya percaya itu. Ada sebuah ungkapan penulis besar Indonesia yang cukup menggelitik naluri saya yakni, Pramoedya Ananta Toer.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

Dari ungkapan tersebut saya berpikir jika saya tidak bisa berbagi ilmu dengan menjadi seorang pengajar, setidaknya masih ada sedikit hal yang dapat saya bagikan tentang pengalaman hidup, presepsi, ekspresi hati maupun ilmu pengetahuan lain melalui tulisan.

Banyak hal sebenarnya yang memotivasi saya dalam menulis. Singkatnya saya menulis karena saya menyukai sastra. Saya ingin belajar dan terus belajar hingga suatu saat nanti bisa menghasilkan sebuah karya bermanfaat bagi pembaca. Saya percaya, seorang penulis menuliskan hal seburuk apapun bukan untuk ditiru pembacanya melainkan agar pembaca menjadi lebih cerdas setelahnya.

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. -Imam Al Ghazali

Jadi, banyak hal yang memotivasi saya untuk menulis dan terus menulis. Melalui tulisan kita bisa berbagi banyak hal. Saya yakin di luar sana banyak sekali orang yang hobi menulis dengan motivasi berbeda-beda. Salam literasi!

Selasa, 26 Juli 2016

Sepenggal Kronologi dan Senandung untuk Senja

Dear Nanta,

Juli 2010.

Awal masa putih biru. Seperti biasa acara MOS adalah acara wajib di setiap sekolah untuk menyambut kehadiran kami, anak baru. Ku kira MOS ini hanya menyusahkan saja, meminta tanda tangan para senior OSIS adalah hal paling menyebalkan. Pasalnya, mereka akan berlari dan bersembunyi ala-ala artis yang dikejar para fans dan wartawan. Terkadang, ada yang berpura-pura mau memberi tanda tangan dengan syarat harus menumpuk kertas mereka kemudian meninggalkannya begitu saja. Kertas yang ia pegang dijatuhkan hingga berserakan. Sebenarnya apa mau mereka? Entahlah.

Agustus 2010.

Peringatan hari kemerdekaan adalah acara tahunan di seluruh pelosok negara kita. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghargai dan menghormati para pahlawan yang telah memperjuangkan negeri ini dari koloni. Sebagai para pemuda generasi penerus bangsa tentunya banyak kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat bela negara. Begitu juga di sekolah, berbagai macam lomba diselenggarakan oleh OSIS sebagai panitia.

Dan disinilah aku mulai mengenal sosok dingin nan beku. Dia terlihat begitu angkuh tak tersentuh. Digilai para senior dan seangkatan membuat aku membencinya. Ia yang hampir sempurna idaman para wanita di sekolah. Cih, melihatnya saja aku merasa jijik. Dia yang jarang bahkan hampir tidak pernah tersenyum, kaku, dan tak ada ramahnya membuatku semakin membencinya. Ketampanan parasnya tak membuat sedikit pun hatiku luluh. Kelihaiannya dalam memainkan bola basket malah membuatku semakin acuh. Kepintarannya dalam akademik malah semakin membuatku cemburu. Oh tidak, aku tak cemburu atau iri melihat ia menjadi idola. Aku tak suka melihatnya begitu sombong dan besar kepala.

Juli 2011.

Kabar begitu cepat menyebar dibawa burung-burung yang tiada hentinya bersuara. Ia menjadi buah bibir di sekolah. Satu nama yang digandrungi pindah ke luar Jawa. Aku tak ambil pusing. Bukan urusanku dan aku tak mau tahu.

Mei 2012.

Sebuah permintaan pertemanan muncul di notifikasi facebook. Namanya begitu familiar. Tanpa berpikir panjang aku menerima permintaan pertemanan melalui social media itu. Beberapa hari kemudian, ia muncul di salah satu album yang ku buat. Di dalamnya berisi ratusan foto bersama tim basketku. Ya, aku pemain basket walaupun tak sejago yang lainnya. Tak apalah. Dan anehnya, entah mengapa jemariku mengetikkan beberapa kata balasan padanya.

Juni 2012.

Sebuah kompetisi basket antar sekolah ku adakan bersama para pengurus OSIS. Lucu ya? Aku yang awalnya membenci sekarang malah menjadi bagian dari mereka. Entah mengapa, rasanya aku ingin mengirimkan pesan singkat lewat obrolan facebook pada ia yang jauh di sana. Aku merutuki diriku sendiri ketika pesan ramah yang ku kirimkan dibalas dengan keangkuhan. Betapa bodohnya aku, ku kira ia berubah begitu saja? Mana mungkin? Menyebalkan.

September 2012.

Hari itu ku lakukan rutinitasku di sekolah seperti biasa. Tak terasa kini aku lah yang paling senior di sekolah. Ya, kelas IX. Alangkah bangganya menjadi Kakak yang tertua yang katanya bisa bertindak semaunya. Tapi aku enggan berkomentar. Yang paling penting adalah tak ada yang mencari masalah denganku maka hidupnya akan aman. Aku tak akan berulah tanpa diganggu terlebih dahulu. Itulah motto hidupku.

Semua orang di kelas ini adalah wajah baru bagiku. Bagaimana tidak, tiap tahun sekolah melakukan pengacakan yang katanya ditujukan agar saling mengenal. Beberapa minggu kami lewati menjadi bagian dari kelas tercinta ini. RESPECT. Begitulah sebutan kelas ini. Jumlahnya tak banyak, hanya 35 siswa. Itu karena beberapa kali ada perubahan siswa yang dipindah ke kelas lainnya. Hingga suatu ketika, wali kelas IX-F datang bersama seorang murid baru yang awalnya membuatku sedikit terkejut. Dia, kembali. Yang selama ini ku benci perlahan aku harus menerima kehadirannya di kelas ini. Mau bagaimana lagi, aku yang kini menjabat sebagai ketua kelas harus bisa bijaksana.

Melalui hari bersamanya kini membuat perasaan benciku sirna. Ternyata, ia tak seburuk yang ku kira. Walaupun terkadang dia sering membuatku jengkel karena sikap acuhnya yang tak berubah. Aku mulai mengenal sifatnya satu persatu. Mulai dari sifat kekanakan, manja, dan suka ngambek. Ia juga tipe orang pelupa, gampang tidur dimana saja.

Aku ingat ketika pertama kali ia masuk kelas ini. Ia duduk di bangku depan. Kemudian ia berbisik padaku agar memindahkannya ke belakang dengan alasan ia sering mengantuk di dalam kelas. Lucu. Kemudian, ia juga pernah memintaku untuk mengantarkannya menghadap kesiswaan untuk mengurus administrasi kepindahannya. Dasar manja!

Dan ketika mendapat tugas kelompok sejarah, ia lupa mengerjakan. Bahkan, ia masih sempat tidur saat kelompok lain sedang mempresentasikan hasil kerjanya. Dasar tukang tidur!

Ada lagi hal yang paling ku ingat dan itu akan membuatku tiada henti tertawa. Ia kehilangan kunci motornya. Ia kebingungan mencari kesana kemari, namun hasilnya nihil. Aku membantu mengobrak-abrik tas bermotif ala tentara miliknya. Hasilnya masih sama. Kemudian, ia melangkah ke parkiran luar mencoba mngecek kuncinya apakah tertinggal di sana, namun tak membuahkan apapun.

Wajah lusuh dan kebingungannya membuatku gemas dan ingin tertawa. Namun, aku tak sampai hati. Aku hanya menepuk pundaknya mencoba menenangkan. Membantu berpikir mencari solusi terbaik. Dan akhirnya, sampai pulang sekolah kunci motor itu masih tak diketahui keberadaannya. Ia pulang dengan motor yang didorong salah satu teman kelas kami. Keesokan harinya ia menggunakan kunci cadangan, ternyata kunci motornya kemarin disimpan oleh tukang parkirnya. Sepertinya ia sedang sial kemarin.

Selang beberapa hari, hal yang paling ku benci akhirnya terjadi. Tahukah hal apa yang paling ku benci? Jawabannya adalah menggambar. Aku tak pernah bisa membuat karya seni yang indah jika berhubungan dengan gambar. Membuat doraemon saja aku tak becus. Yang bisa ku buat hanya rumah, gunung, laut dan sawah. Itu pun seperti gambaran anak TK. Dan kali ini, tugas kelompok geografi membuat peta salah satu negara ASEAN. Dan beruntungnya aku, sekelompok dengannya lagi. Mengapa demikian? Tentu saja ia yang akan ku minta untuk membuat gambarnya. Walaupun awalnya ia marah-marah tak jelas, namun akhirnya ia tetap membuatnya. Aku yang memiliki sifat cerewet sejak lahir, memprotes hasil gambar yang sedikit sobek. Beberapa hari ia marah tak mau menyapa. Ah, lucunya. Hanya karena hal sepele ia ngambek beberapa hari.

Juli 2013.

Tak terasa setahun sudah berlalu. Telah ku tanggalkan seragam putih biru yang akan berganti putih abu. Lagi-lagi bertemu dengan kata MOS. Dan kali ini barang yang harus dibawa semakin banyak dan merepotkan. Bayangkan saja semuanya penuh dengan ungkapan-ungkapan aneh yang tak pernah ku dengar sebelumnya. Contohnya :

- Sebatang coklat = kayu
- Keripik zodiak = LEO keripik kentang
- Bulpoint terbang = Bulpoint merk pilot
- Air suci = AQUA
dst.

Awal masuk SMA ini jujur, aku kecewa. Sekolah ini bukan sekolah yang aku impikan. Tapi, tak apalah dijalani saja. Aku tak tahu ternyata ia juga diterima disini. Astaga, mengapa harus bertemu lagi? Aku enggan dan bersumpah tak ingin sekelas dengannya. Tapi, takdir berkendak lain. Saat pembacaan kelas sementara, daftar namaku dengannya berada dalam kertas yang sama. Aku sebal, mengeluarkan sumpah serapah yang dibalas ejekan dan bully-an dari teman-temanku. Sial, haruskah aku bertemu dengannya lagi? Dan temanku menggoda dengan celetukkan bahwa kebencianku akan berubah jadi cinta. Hah, yang benar saja?

MOS kali ini lebih berat, bayangkan saja kami harus menyiapkan segalanya di kala kami sedang melakukan ibadah puasa. Panas-panasan di bawah terik matahari mencari bahan yang akan digunakan untuk membuat perlengkapan MOS agar tak kena hukum senior yang galak setengah mati. Ku rasa ini semua cukup menyita tenaga. Dan satu lagi, peraturan macam apa kami tak boleh duduk dengan sesama jenis. Aku yang awalnya duduk dengan Aldian temanku, dipaksa pindah dan duduk dengannya. Double shit. Memang tak ada rasa canggung. Tapi tetap saja aku tak nyaman.

Hingga aku mendapati kejadian tak terlupakan dengannya. Ia yang sering kali lupa menanyakan beberapa hal tentang MOS melalui pesang singkat yang ia kirimkan padaku. Tak jarang, ia juga mengirim pesan lewat obrolan facebook. Sampai suatu ketika kami, peserta MOS. Diminta untuk membawa keripik zodiak. Ia bertanya padaku, apa itu keripik zodiak itu? Tentu saja LEO keripik kentang.

Keesokan harinya, kami mengumpulkan barang-barang yang diminta. Aku yang sangat polos mengira bahwa sebatang coklat yang dimaksud adalah coklat yang dijual dipasaran. Dan ternyata ia memberitahuku bahwa sebatang coklat itu maksudnya adalah sebatang kayu. Ia menertawakanku. Aku diam. Lalu ku lihat barang bawaannya. Tunggu. Ada yang kurang di sana! Aku berpikir sejenak kemudian bertanya. Keripik zodiak mana? Ia menjawab sambil menunjukkan sebuah biskuit bertuliskan OREO. Dan aku tertawa terpingkal-pingkal sedangkan ia melihatku kebingungan. Aku menoyor kepalanya, dan berkata bahwa ia salah membawa snack. Ia malah menyalahkanku, ia berkata bahwa aku mengatakan padanya harus membawa OREO. Hei, yang benar saja? Dia tuli, aku berkata LEO ia bilang OREO. Sudah jelas-jelas kata kuncinya keripik, dia malah berpikir biskuit. Lalu siapa yang oneng di sini huh? Teman sekelas kami menatap dengan pandangan aneh. Karena di kelas ini aku dan dia heboh sendiri. Aku menakutinya bahwa ia akan dihukum. Sedangkan aku tidak karena aku meminta kayu dari anak kelas sebelah. Lalu, ia ditanya oleh senior dimana keripik yang diminta. Ia menjawab bahwa keripiknya patungan denganku karena ukuran kecil habis terjual. Tentu saja aku sempat kaget, namun mau bagaimana lagi. Tak apalah sesekali membantunya kan pahala. Untung saja aku membawa LEO ukuran besar, kalau tidak pasti ia kena hukum. Dan sekali lagi, bukannya memberikan OREO nya padaku sebagai ganti keripikku yang dia akui, dia malah mengumpulkan OREO tersebut dalam kardus berisi snack itu. Dia memang selalu saja menyebalkan.

Acara MOS telah usai. Kami resmi menjadi anak SMA. Atribut yang menyiksa dibuang begitu saja. Begitu pun ia, menggantung id card MOS di sebuah pohon mangga. Aku tertawa melihat tingkahnya, ku peringatkan ia agar mengambil foto yang menempel disana. Ia tak menggubris. Baiklah, entah ide gila dari mana aku mengambil fotonya.

Masih pada bulan yang sama, kali ini pengumuman kelas yang dinanti telah tiba. Aku dan sahabatku sibuk mencari kelas kami. Tahun ini, kurikulum baru diterapkan. Lagi-lagi angkatanku lah yang menjadi kelinci percobaan. Its okay, kami hanya bisa menerima dan melakoninya dengan lapang dada. Kami dijuruskan sejak kelas X. Jujur saja, sebenarnya aku ingin memilih jurusan bahasa. Tapi, ku urungkan niat itu karena menurut Kakak lebih baik masuk IPA. Aku cemas melihat hasilnya. Berkeliling empat kelas tak ada namaku disana. Yang ku temukan adalah namanya dengan seseorang yang menyukainya sejak SD. Entahlah itu benar atau hanya gosip belaka. Aku mencoba tak peduli, tapi entah mengapa sisi lain hati ini seolah menolak dan mengatakan sebaliknya. Ada sedikit rasa kecewa ketika ku dapati aku dan dia tak lagi menjadi teman sekelas.

Lupakan saja. Anggap tak pernah terjadi. Dan kini, aku menunggu angkot di depan gang menuju sekolah. Di tengah terik mentari hilir mudik siswa berseragam di jalanan. Maklum saja, jam pulang sekolah yang selalu dinantikan datang lebih awal. Tentunya semua siswa bahagia tak terkira. Namun, kebahagiaanku musnah ketika ku melihat ia bersama seseorang yang menyukainya. Sesak. Kecewa. Semua beradu dalam dadaku. Perasaan macam apa ini?

November 2013.

Bulan dimana terdapat hari kelahirannya. Aku ingat ia pernah bercerita bahwa tanggal lahir asli dan yang ada di dalam berkas-berkas penting miliknya berbeda. Tanggal lahir sebenarnya adalah tanggal 5 pada bulan ini. Aku yang mengingat itu, tiba-tiba berniat ingin memberikan sesuatu yang spesial untuknya. Sebelum hari ulang tahunnya, ada rencana reuni bersama anak-anak RESPECT. Ia yang berjanji akan datang, nyatanya berdusta. Alasannya ia sedang ada acara keluarga dan akan datang terlambat. Baiklah, akan ku tunggu. Satu jam, dua jam, tiga jam lebih akhirnya satu persatu dari mereka pamit. Tinggal lah aku menunggunya di sini, khawatir jika ia datang dan mencari-cari keberadaan kami. Namun, ternyata aku salah. Sampai jam 10 malam, ia tak kunjung datang jua. Baiklah, aku mengerti bahwa urusan keluarga jauh lebih penting.

Tanggal 5, bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku yang telah memesan kue untuknya, dan akan memberikan kue tersebut ketika latihan basket sore nanti. Namun, rencana tak sesuai realita. Keluargaku mendadak harus keluar kota mengunjungi sanak saudara. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya aku meminta salah seorang temanku untuk mengambil kue itu dan menitipkannya pada salah satu teman basketku.

Keesokan harinya, aku datang ke sekolah seperti biasa. Aku melihat teman basketku yang telah membantu. Aku sempat menyuruhnya mengambil gambar kue itu sebelum diberikan padanya. Ku lihat kue itu agak sedikit berantakan. Dan temanku bercerita bahwa kuenya sempat salah nama. Tak masalah yang terpenting ia menerimanya. Walaupun, menurut temanku awalnya ia tak mau menerima.

Jam istirahat, ku dengar berita-berita mengejutkan bahwa kemarin salah seorang anak basket yang berulang tahun memberikan kue tart nya pada anak paskib. Aku yang mendengar berita itu bertanya pada temanku tentang kebenarannya. Dan akhirnya aku harus kembali kecewa. Kue itu hanya dilihatnya saja. Ia seperti menolak kue itu secara halus. Dengan beralasan ia telah mendapat banyak kue hari ini dan dia sedang berpuasa. Kue itu tak sedikit pun dicicipi olehnya. Baiklah, ku rasa itu memang wajar. Kue itu tak mewah, tak mahal pula. Pasti berbeda dengan apa yang ia dapat dari orang sekitarnya.

Fakta lain yang mengejutkan. Ia berbohong, di hari aku menunggunya ia tak ada acara keluarga melainkan hang out bersama teman sekelasnya. Kecewa? Tentu saja. Tapi, aku sadar aku bukan siapa-siapa.

Januari 2014.

Aku mulai mengakui keberadaan perasaan ini. Entah sejak kapan ia bersemi. Namun, benih itu telah tumbuh dan mendarah daging dalam hatiku. Astaga, aku menjilat ludahku sendiri. Bagaimana tidak, dulu aku mengatakan bahwa benci tak akan pernah berubah. Namun, nyatanya aku salah.

Hari senin, adalah hari yang sangat menyebalkan bagi seluruh siswa. Alasan utamanya adalah upacara. Kami tak mengapa jika harus upacara 24 jam dengan syarat sinar mentari tak begitu menyengat. Keluhan macam apa ini, harusnya kami semangat karena masih ada yang perjuangannya lebih berat yakni mereka sang kusuma bangsa.

Andai ia tahu, hal yang paling ku suka adalah memperhatikan dari jauh. Mengamati gerak-geriknya, tingkah konyolnya, bibir simetrinya. Bahkan saat upacara aku selalu mencari lokasi strategis untuk mencuri-curi pandang. Astaga, aku seperti penguntit.

Tiba-tiba seseorang membopongnya keluar dari barisan. Sekembalinya si pembopong aku sempat bertanya. Apa yang terjadi? Dan aku panik. Seusai upacara, aku berlari menuju koridor yang berlainan arah dengan kelasku. UKS. Tempat dimana ia sekarang duduk memeluk lututnya. Raut wajah yang biasanya berseri kini pucat pasi. Aku memandanginya dari luar UKS. Kemudian, muncul lah salah satu anggota UKS yang bertugas. Aku menanyakan keadaannya, bertanya apakah ia sarapan pagi ini. Aku tahu betul, orangtuanya sibuk. Ia pernah beberapa kali bercerita padaku. Aku khawatir, kalau ia akan kembali terserang typus seperti semasa dulu. Aku meminta tolong pada petugas UKS membelikannya makanan. Dan bodohnya aku tak menyadari bahwa aku tak membawa uang sepeser pun. Akhirnya, aku meminjam pada teman yang ku kenal. Dan memberikannya pada petugas UKS agar mau membelikan sarapan di kantin. Aku undur diri kembali ke kelas uang agak jauh dari lokasiku saat ini. Kalau saja bukan pelajaran matematika, tentu aku rela bolos demi menemaninya.

Februari 2014.

Pelajaran biologi. Saatnya mengumpulkan tugas yang semalam ku kebut habis-habisan. Buku tugas ditumpuk di meja guru. Hingga, selembar kertas foto terjatuh ke lantai. Entah asalnya dari buku yang mana. Dilihatnya foto itu oleh guru biologiku. Ia bertanya, foto siapakah ini? Semua siswa yang tadinya tenang mulai gaduh. Bangkit dari kursi berlomba-lomba melihatnya, aku diam acuh. Hingga salah seorang teman basketku merebut foto itu dan disimpannya. Temanku berbisik bahwa yang terjatuh adalah fotonya. Temanku yang sempat melihat foto itu dan mengenalnya akhirnya salah sangka mengira bahwa teman basketku menyukainya. Dan teman basketku itu rela, asal rahasiaku terjaga. Terima kasih, Yista.

Agustus 2014.

Hari ini ada sebuah pertandingan tim basket temanku di DBL ARENA. Aku mengajaknya untuk menonton bersama. Ia pun meng-iya-kan ajakanku. Selepas upacara peringatan HUT RI, aku bergegas pulang. Mempersiapkan diri menonton pertandingan. Aku terlambat ia mengomel tiada hentinya lewat pesan singkat. Dan saat aku datang ternyata ia masih makan nasi krawu di pinggir jalan. Menyebalkan! Rasanya kata itu selalu cocok untuk menggambarkannya.

Aku tahu ia tak suka pedas. Hingga beberapa jam kami menonton pertandingan ia diam tanpa kata. Dan akhirnya setelah ku amati ia sedang menahan rasa melilit diperutnya. Ck, ceroboh sekali. Pantas saja sedari tadi ia tak ceramah karena keterlambatanku. Jujur aku khawatir, tapi ia bertingkah seolah baik-baik saja.

November 2014.

Kali ini aku tak memberikan apapun untuk ulang tahunmu. Aku merasa kita semakin jauh, entahlah. Mungkin ini hanya perasaanku saja? Ataukah memang ini benar nyatanya? Ia yang semakin dewasa, dan mengubah segala sifat lamanya atau aku yang semakin jauh sampai tak mengenalnya. Tak lagi seperti dulu, tegur sapa pun tak tentu. Bahkan, hampir tak pernah. Aku seperti tak mengenalnya. Kehadiranku bak angin yang berhembus namun tak terlihat. Diabaikan.

Februari 2015.

Bulan kelahiranku. Tanggal 17 hari ulang tahunku. Aku tak mengharap sesuatu yang istimewa. Aku hanya ingin ia mengingatnya.

Hari ini, aku genap berusia 17 tahun. Orang-orang biasa menyebutnya sweet seventeen. Namun, yang terjadi padaku adalah kebalikannya. Shit seventeen. Jadwal latihan basket sore ini, aku berkumpul bersama timku. Tiba-tiba salah seorang adik kelasku berkata bahwa ia sedang dekat dengan seseorang yakni kakak kelas kami. Bahkan, kabar yang begitu menyakitkan adalah kenyataan bahwa mereka berpacaran. Aku diam seribu bahasa. Mencoba menetralisir rasa yang berkecamuk dalam dada. Tersiksa. Rasanya cairan bening dari pelupuk mata ingin tumpah. Aku menguatkan diriku sendiri, mencoba berfikir bahwa berita ini adalah ilusi. Dan ini semua hanya mimpi, bukan kenyataan pahit yang harus ku hadapi. Ternyata aku salah. Asaku tentang sweet seventeen musnah sudah. Tanpa ia sadari ia gores luka menganga. Tak nampak memang. Tapi, dapat dirasa gejolaknya dalam dada.

November 2015.

Ulang tahunnya ke 18 tahun. Aku semakin jauh. Ia seperti bayang semu. Ia indah seperti senja. Namun hadirnya fatamorgana. Tak dapat ku raih walau sehasta. Dekat, namun dibatasi oleh dinding pemisah. Hatinya tak dapat ku rengkuh. Senyumnya hanya bisa ku lihat dalam bisu. Tawanya terkenang dalam ingatanku. Tuturnya adalah masa lalu. Aku dan dia pernah bersama namun hanya sebatas teman biasa yang kini berbeda. Sudahlah, mungkin aku yang terbelenggu dalan perasaanku sendiri. Sampai akhirnya aku harus merasakan perih. Aku yang mulai menaruh hati padanya, dan aku pula yang harus siap menerima nestapa.

Hari itu, aku sengaja menunggu pergantian hari. Besok adalah tanggal 5, walaupun aku bukan orang pertama di hatinya setidaknya ia mengingatku karena aku yang pertama mengucapkan di hari pertambahan umurnya. Pukul 00.00 WIB ku kirimkan pesan singkat lewat blackberry messenger. Sampai minggu berikutnya pesan itu tak kunjung menampilkan huruf R. Mungkin, pesanku tertimbun.

Februari 2016.

Ulang tahunku ke 18. Keadaan masih tak berubah. Aku masih berada di titik yang sama. Aku masih mencoba mengetuk pintu yang sama sekali telah dilarang masuk oleh sang pemilik. Aku mengenang masa itu. Kala aku membencinya, mulai bersikap ramah, menghabiskan waktu bersama, bermain basket, pergi menonton basket dan kenangan-kenangan yang mungkin ia sendiri lupa. Aku tak mengerti mengapa hati enggan beranjak pergi. Inginku melupakannya namun apalah daya ia selalu terngiang di kepala. Kenangan bersamanya seperti putaran kaset rusak yang mendengung di memori.

April 2016.

Mendekati Ujian Nasional SMA. Tiba saatnya kami untuk mohon do'a pada seisi sekolah. Kami juga meminta maaf pada orang-orang yang pernah kami buat terluka. Dan ya, aku ingin meminta maaf padanya pula. Aku ingin memperbaiki pertemanan ini. Saat ia berada di parkiran sekolah aku memberanikan diri menghampirinya. Langkahku terhenti. Ku lihat seorang teman sekelasnya yang dikabarkan spesial menghampiri. Ku urungkan niatku lalu melesat pergi. Masih ada sesuatu yang janggal sampai saat ini. Entahlah.

Mei 2016.

Usai ujian, kami seperti pengangguran. Lontang-lantung di rumah tanpa pekerjaan. Namun, tidak sepenuhnya begitu. Pasalnya kami juga sibuk mengurus berbagai macam pendaftaran untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ingatan itu kembali membelengguku. Dulu, aku berjanji akan mengutarakan perasaan ini ketika kami akan berpisah. Dengan kata lain ketika kami lulus SMA. Nyatanya, sampai detik ini perasaan masih tersimpan rapih dalam hati. Mungkin sebenarnya ia tahu. Dan itu alasannya mengapa ia menjaga jarak denganku. Atau bahkan kini ia yang membenciku karena merusak citranya sebagai salah seorang most wanted sekolah.

Aku ingin melupakannya. Namun, tiap aku menjauh takdir seolah mengujiku dengan mempertemukan kami. Aku seperti layang-layang yang ditarik ulur oleh pemiliknya. Maju terluka, mundur sia-sia. Lalu, aku harus bagaimana? Mengapa perasaan ini begitu menyiksa? Mengapa rasa ini tak segera binasa? Mengapa aku menjauh tapi selalu meragu? Mengapa aku mendekat namun ia tak tersentuh?

Hari wisuda pun tiba. Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan mengenakan jas hitam dengan kemeja warna biru yang serasi dengan warna kebayaku. Astaga, pendapat macam apa ini. Ingin aku mendekat dan mengajaknya berbicara. Tak butuh 3600 detik seperti sebuah film, hanya 60 detik pun ku rasa cukup. Ingin ku curahkan segenap asa meronta dalam dada. Aku tak memiliki keberanian. Aku diam termangu dalam munajahku. Aku hanya berharap akan ada kesempatan tanpa mencoba menciptakannya. Dan hasilnya, sampai wisuda usai tak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya memandang punggungnya yang semakin jauh dan semakin tak tersentuh.

Juni 2016.

Aku masih berusaha melupakannya. Perlahan tapi pasti aku mulai terbiasa. Namun, segelintir ingatan tentang masa itu masih membelenggu. Menohokku agar sulit bangkit dan berpindah ke lain hati. Aku terus berusaha, namun terkadang rindu masih singgah. Aku masih mencoba namun kenangan itu tak akan sirna.

Kini, aku mulai berlapang dada. Berharap ujung cerita yang abu-abu akan menunjukkan hitam atau putih. Dan aku bisa memutuskan untuk pergi. Meninggalkan kenangan yang memenjarakan. Mengambil hikmah dari kisah yang menyakitkan. Tak mengapa, ini semua adalah konsekuensinya.

Juli 2016.

Sebulan lebih, terakhir kali aku melihatnya. Aku tak tahu rasa ini masih sama atau telah berubah bahkan sirna. Mungkin memudar perlahan. Mungkin tetap bertahan. Dia yang selalu ku tuliskan dalam buku harianku, dia yang selalu ku sebut dalam sujudku, dia yang ku selipkan dalam munajah sepertiga malam entah bagaimana kabar.

Ku ambil kesimpulan, bahwa mencintai seseorang seperti memetik mawar. Ketika kau ingin memetiknya kau harus rela tersakiti oleh duri tajamnya. Dan mencintai seseorang seperti hembusan angin dapat dirasakan namun tak dapat disentuh. Mencintai seseorang seperti berdo'a yang selalu dipanjatkan namun menunggu Tuhan mengabulkannya. Mencintai seseorang seperti senja, indah dipandang diabadikan lewat kenangan namun tak dapat dimiliki seutuhnya. Mencintai seseorang seperti sungai, mengalir deras semaunya mengikuti alur yang ditentukan dan berakhir pada delta. Mencintai seseorang seperti membaca buku, membaca dan memahami. Mencintai seseorang seperti elang yang berburu, memperhatikan dari jauh. Mencintai seseorang seperti merpati yang dilepas, hanya akan kembali kepada sang pemilik sejati. Jikalau cintamu bertepuk sebelah, seperti menggenggam angin. Yang didapati hanya kosong, hampa. Dan mencintai seseorang harus rela terluka ketika tak ditakdirkan bersama. Maka cintai seseorang dengan bijaksana. Lepaskan bila memang ia enggan digenggam. Pertahankan bila memang pantas diperjuangkan. Jangan terbelenggu oleh sesuatu yang semu. Dan nyatanya aku terlambat menyadari semua itu. Sepahit apapun cinta pasti manis bila kau ikhlas menjalaninya. Biarpun pahit yang ku rasa setiap harinya, namun bagiku manis jika kau tahu cara menikmatinya. Seperti pembuatan caramel macchiato, begitulah percampuran rasa yang terjadi dalam sebuah cinta.

Inilah sepenggal kisahku, dari beberapa potong kenangan yang melekat dalam ingatan. Nanta, tahukah siapa 'ia' yang dimaksud dalam kronologiku? Sebut saja ia senja. Kehadirannya diantara gelap dan terang. Diantara siang dan malam. Warnanya indah dinanti setiap pasang mata yang mengaguminya. Senja dengan deru ombak yang menggebu seperti rasa dalam kalbu. Senja yang hanya bisa ku pandang keindahan, hadirnya selalu ku nantikan, ku abadikan lewat kenangan karena tak dapat ku genggam. Senja yang menjelma dalam sosok insan yang terlihat sempurna. Senja yang menciptakan bayang semu dan fatamorgana menjadi satu. Kau pasti bertanya mengapa aku masih bertahan mencintai senja? Entahlah, aku tak tahu. Semakin aku ingin membunuh rasaku, semakin ia menggebu. Bagaimana mungkin aku menahan kesakitan sendirian selama 3 tahun belakangan? Beruntungnya hatiku diciptakan oleh Tuhan, jikalau ciptaan manusia pasti telah remuk tak tersisa. Ku titipkan sebuah sajak dan sebuah senandung untuk senja agar ia ingat aku selalu menantinya. Senandung yang ku buat dengan bantuan arasemen musik bersama temanku. Sebelumnya ku peringatkan bahwa senandung itu dinyanyikan oleh teman yang membantu mengarasemen. Kau pasti bertanya mengapa bukan aku? Jawabannya tentu aku tak ingin kau tahu siapa aku. Semoga kau mengerti siapakah senja yang selama ini selalu menjadi bayang indah namun menggores lara.

Berawal dari sebuah kebencian
Berubah secara perlahan
Gulir waktu menjadi saksi bisu
Bahwa benci menjadi rindu

Tak disangka hadirnya bagai candu
Kosong terasa dalam kalbu
Gelisah terasa kala rindu
Tangis pecah kala cemburu

Memang benar kata pepatah
Benci dan cinta setipis helai rambut
Kala ia mulai melanda
Hatimu akan carut marut

Aku terbelenggu dalam mangu
Mengagumi dari jauh
Mengejar bayang semu
Yang tak akan bisa ku rengkuh

Apa hendak dikata
Bila aku tak dapat singgah
Mengetuk pintu yang tak terjamah
Menunggu sebuah fatamorgana

Ajarkan tuk berlapang dada
Bila pada akhirnya aku dan kamu tak menjadi kita
Mungkin Tuhan akan memberi lebih dari yang ku kira
Entah bagaimana pada akhirnya
Hitam atau putih
Bersatu atau pergi
Aku masih sabar dalam sembilu abu-abu
Menjadikan semuanya titian kalbu

Dari sang pecinta senja

P.s. Link : Senandung untuk Senja

https://youtu.be/Tuk2pwBsKo8